Inovasi

Inovatif, Mahasiswi Unimed Manfaatkan Alat Musik untuk Tingkatkan HOTS Mapel Fisika

Siedoo, Setiap daerah di Indonesia memiliki alat musik tradisional masing-masing yang unik. Selain sebagai pengiring nyanyian atau tarian, alat musik tradisional bisa dimanfaatkan sebagai peraga dalam pembelajaran di sekolah.

Seperti dilakukan oleh mahasiswi Universitas Medan (Unimed) Sumatera Utara ini, yang mengekplorasi alat musik tradisional asal Batak Toba sebagai media pembelajaran. Minimal ada tiga alat musik tradisional Batak Toba, yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir tingkat tinggi (HOTS) pada mata pelajaran fisika, yaitu taganing, sulim, dan hasapi.

Mahasiswi Prodi Pendidikan Fisika Unimed, Eliyana mengatakan pembelajaran fisika pada umumnya lebih ke arah perhitungan matematis. Namun ternyata ada pembelajaran fisika berbasis kearifan lokal dengan menggunakan media berupa alat musik khas Batak Toba.

“Hasil penelitian kami, siswa lebih antusias dan termotivasi serta  mampu menumbuhkan minat untuk lebih mengenal kebudayaan Batak Toba. Di samping itu meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi,” ujar Eliyana, dilansir unimed.ac.id.

Eliyana bersama dua orang rekannya, Halimahtun Sakdiah (Pendidikan Sejarah) dan Chintya Maretti Pandiangan (Pendidikan Fisika) menyampaikan hal tersebut berdasarkan penelitian yang mereka lakukan di dua SMA di Kota Medan. Penelitian mereka mendapat pendanaan dari Kemenristekdikti pada bidang PKM Penelitian.

Mahasiswi Unimed Eliyana, Halimahtun Sakdiah, Chintya Maretti Pandiangan bersama dosen pembimbing Dr. Rita Juliani, M.Si. foto: unimed.ac.id

Dijelaskan Eliyana, hubungan alat musik Batak Toba yang digunakan dalam ilmu fisika berkaitan dengan konsep gelombang bunyi. Alat musik Batak Toba dapat menghasilkan bunyi yang khas tergantung perlakuan yang diberikan.

“Pada alat musik taganing misalnya, agar terjadinya interferensi maka alat musik tersebut dimainkan secara bersamaan dalam jumlah yang lebih dari 2. Interaksi antara dua gelombang tersebut menghasilkan pola gelombang baru,” jelas Eliyana.

Sedangkan sulim terbuat dari seruas bambu yang dibentuk sedemikian rupa dengan satu buah lubang tiupan (penghasil bunyi) di bagian atasnya dan enam buah lubang nada sebagai penghasil nada-nada yang diinginkan.

Di antara lubang penghasil bunyi dengan lubang nada, terdapat satu buah lubang pemecah bunyi (lubang tambahan) yang ditutup dengan kertas tipis. Lubang tambahan ini dapat menciptakan warna bunyi yang menjadi ciri khas tersendiri.

“Alat musik sulim merupakan penerapan dari konsep pipa organa terbuka pada fisika. Sedangkan hasapi merupakan pembelajaran untuk konsep dawai,” ujar Eliyana.

Sementara itu, dosen pembimbing mereka, Dr. Rita Juliani. M.Si mengatakan, dengan adanya temuan ini pembelajaran diharapkan tidak hanya fokus terhadap media-media berbasis elektronik.

“Pembelajaran juga hendaknya mengenalkan kearifan lokal agar tidak hilang ditelan zaman,” katanya. (*)

Apa Tanggapan Anda ?