Inovasi

Dosen Akprind Bertugas Memonitor dan Mengevaluasi Karya Inovasi

MAGELANG – Institut, Sains dan Teknologi (IST) Akprind Yogyakarta melakukan monitor dan evaluasi (monev) enam karya hasil kreasi dan inovasi (Krenova) 2019 masyarakat Kota Magelang. Karya - karya itu terlebih dahulu masuk ke Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kota Magelang.

Monev yang dipandu oleh Kasubid Pengembangan dan Penerapan Teknologi (Bangraptek), Yetty Setiyaningsih, ini dilaksanakan di Kebon Semilir Sanden, Kota Magelang, Kamis (23/5/2019). Kegiatan ini merupakan bagian penting dari kegiatan pengembangan dan penerapan teknologi dan inovasi.

"Kerja sama dengan Akprind merupakan yang kedua kali dalam pendampingan karya-karya Krenova masyarakat. Masukan dari para dosen Akprind ini diharap mampu menyempurkan karya peserta," jelas Kepala Balitbang Kota Magelang, Arif Barata Sakti.

Enam karya yang dimonitor dan dievaluasi antara lain alat pemotong dari plat bekas (Rusend-Cut) karya Wiku dan Rusmiyati, kompor listrik dengan panel surya (Smart Electric Stove) karya Patra Agung, Bayu, dan Agung, serta Medical Examination Outdoor karya Damar Kuncoro Aji.

Tiga karya lainnya, Pendidih Air Cepat karya Purwadi, Automatic Drying Portable karya Chamim Susanto, dan meja laptop portable (Net Desk Portable) karya Rizaldi Alfian Nur.

“Setelah ini, peserta akan paparan hasilnya lagi sebelum diseminasikan atau produknya dikenalkan ke masyarakat serta stakeholder,” jelasnya, didampingi Kabid Harmonisasi dan Inovasi, Catur Adi Subagyo.

Sebelumnya, enam karya Krenova 2019 tersebut telah dipaparkan oleh masing-masing inovator.

"Kita ada enam dosen dari Akprind yang bertugas memonitor dan mengevaluasi karya-karya peserta ini,” imbuh Ketua Jurusan Teknik Elektro IST Akprind Yogyakarta, Sigit Priyambodo.

Menurutnya, semua karya peserta memiliki catatan penting untuk bisa ditindaklanjuti. Catatan-catatan ini tidak hanya dari tim, tapi juga dari pandangan, saran, dan kritik dari masyarakat saat dilaksanakan paparan.

“Inventor atau inovator terkadang kan membuat produk secara otodidak. Secara keilmuan barangkali belum menguasai. Maka, kami dari akademisi bertugas memberikan masukan secara keilmuan terkait penerapannya,” katanya.

Sigit mengungkapkan, enam karya tersebut masih perlu penyempurnaan lagi. Misalnya, alat pendidih air cepat tidak hanya sekadar memanaskan saja, tapi juga dihitung efisiensinya termasuk persyaratan secara teknisnya.

“Secara keilmuan kita hitung juga sisi ekonomisnya, karena barangkali ke depan alat buatan mereka bisa untuk usaha atau bahkan dijual. Kami siap mendampingi peserta sampai menghasilkan produk jadi,” jelasnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?