Tokoh

Semangat Anak Terpencil Menimba Ilmu, Beli Buku Pakai Uang Sendiri

Siedoo, Semangat anak-anak di daerah terpencil untuk menimba ilmu begitu besar. Meski di tengah keterbatasan sarana prasarana, mereka tak patah semangat untuk terus belajar.

Berangkat dari keterbatasan yang dialami anak-anak dan kepeduliannya terhadap pendidikan, mendorong Zulhamdi untuk menyediakan taman baca hijau. Ia dirikan di daerah perbukitan Dusun Mertak Mas, Desa Kedaro, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat.

Tak hanya lahan yang disediakan, uang pribadi pun rela dipakai untuk membeli buku bagi anak-anak. Dusun ini berada di daerah yang cukup tinggi berada sekitar 300 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sehingga kawasan ini cukup terpencil dari akses pendidikan apalagi perpustakaan.

Latar belakang pendirian Taman Baca ini dari sebuah inisiatif Zulhamdi pribadi yang ingin memajukan Dusun Mertak Mas.

“Saya merasa terpanggil dan peduli terhadap anak-anak yang berada di tempat saya ini. Setiap hari pulang sekolah yang dilakukan hanya bermain tidak ada yang lain,” tuturnya dilansir dari suarantb.com.

Kalau terus dibiarkan tentu ini mempengaruhi Sumber Daya Manusia (SDM) sehingga mereka akan terus terbelakang. Karena lokasi mereka yang ada di bawah kaki gunung di wilayah selatan Lombok Barat, jauh dari akses pendidikan.

Bagi pria berusia 31 tahun ini, buku adalah jendela dunia. Dengan membaca orang bisa menguasai dunia. Sekitar tahun 2016 Hamdi bersama rekannya Muhammad Yunus mendirikan taman baca ini.

Sampai saat ini muridnya berjumlah 30 orang yang terdiri dari 22 perempuan dan 8 laki-laki. Kebaradaan taman baca ini sebagai kegiatan tangan anak-anak selepas pulang sekolah.

Buku yang ada, bersumber dari usaha beli sendiri dan sebagian ada juga sumbangan dari masyarakat seperti Sekdes Sekotong Tengah. Hampir dua tahun lebih keberadaan taman ini, namun belum ada bantuan dari pihak pemerintah setempat. Mungkin karena keberadaan taman baca ini di gubuk terpencil bawah gunung sehingga sulit untuk mendapatkan perhatian dari pemerintah.

Walaupun jumlah mereka 30 orang, namun belum tentu semua anak mau datang, kadang ada saja yang absen dari 5 sampai 10 orang yang tidak bisa hadir. Agar anak-anak tetap semangat datang ke taman baca, dirinya membuat terobosan dengan membangun beberapa wahana permainan untuk anak-anak.

Membaca, Bermain, dan Belajar

Sehingga ketika mereka datang ke taman baca, anak-anak tidak hanya sekedar membaca buku, tetapi mereka juga bisa bermain bahkan juga belajar. Hal-hal yang mereka bisa pelajari jika datang ke taman baca, salah satunya bagaimana menanam bunga yang benar. Mengajak anak-anak untuk menanam tanaman obat, dan bermain berbagai permainan zaman dulu.

Aktivitas sehari-hari Hamdi adalah guru sekolah di salah satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang ada di Desa Kedaro.

“Saya masih ngajar dan sekarang juga sambil kuliah semester 6 di Universitas Qomarul Huda Loteng,” ujarnya.

Lahan yang dimanfaatkan adalah lahan pribadi miliknya, luas lahan kebunnya sekitar 1 hektar dengan keindahan perbukitan terasering di atasnya. Tapi lokasi khusus taman baca luasnya sekitar 6 are.

“Saya lakukan penataan ruang tanpa ada dorongan dan bantuan dari pemerintah maupun orang setempat. Saya pahami akan hal ini karena masyarakat di sini masih minim SDM nya,” ujarnya.

Ia berharap ke depannya untuk taman baca ini mudah-mudahan ada bantuan dari pemerintah setempat maupun dari pusat. Atau pun bantuan dari masyarakat umum, karena masih ada dan banyak kekurangan, seperti ATK dan alat peraga belajar lainnya.

Beberapa waktu lalu dari Pemdes Kedaro rencananya sudah dianggarkan dana untuk perlengkapan alat-alat tulis dan pembelian ATK. Karena rencana besar ke depannya lahan ini akan dijadikan sebagi perpustakaan alam. (*)

Apa Tanggapan Anda ?