Sang Pencerah, kisah nyata perjuangan KH Ahmad Dahlan, dibuat cerita dan difilmkan. ilustrasi: tribunnews.com

Opini

Mengubah Kisah Nyata Menjadi Cerita Pendek


Siedoo, Cerita pendek (cerpen) tidak selamanya merupakan cerita rekaan penulis. Namun kisah nyata pun bisa dibuat sebuah cerita pendek. Tak beda dengan sinetron yang dibuat berdasarkan kisah nyata.

Sebenarnya, mengubah kisah nyata menjadi sebuah cerpen bukalah hal baru. Sebab nyaris semua pengarang pernah menulis cerpen berdasarkan kisah nyata. Baik dari pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain atau kejadian tertentu yang dilihat oleh si pengarang.

Secara umum, tekniknya sama saja dengan teknik penulisan lainnya. Tapi yang perlu diingat adalah: kisah nyata tersebut hanyalah sebuah ‘ide’. Sebagai ide, kita bebas mengembangkannya. Mau kita ubah ceritanya, ditambahi, dikurangi, dan seterusnya, semua terserah kita.

Hal itu tak ada yang melarang, karena kisah nyata tersebut bukanlah sebuah sejarah, hanya peristiwa sehari-hari yang biasa. Itu bukan berarti kita tidak boleh membuat cerpen yang isinya sama persis dengan kisah nyatanya. Boleh-boleh saja dibuat sama.

Yang dimaksud adalah, kita jangan sampai berpikir bahwa, cerpen yang kita tulis tidak boleh merubah sedikit pun kisah nyatanya. Sebab sekali lagi, kisah nyata tersebut bukan sebuah sejarah.

Sekadar berbagi tips, berikut adalah contoh langkah-langkah yang bisa kita lakukan dalam mengubah sebuah kisah nyata menjadi cerpen.

Pertama, carilah bagian dari kisah nyata itu yang kita anggap menarik. Bagian yang kurang menarik, atau tidak menarik sama sekali, lupakan saja.

Kedua, ambillah bagian yang menarik tersebut, lalu kembangkan ceritanya sesuai keinginan kita. Kalau perlu, carilah sudut pandang yang unik, agar ceritanya menjadi lebih bagus.

Ketiga, kita bisa langsung menulis cerpennya. Saat menulis ini, kita sudah boleh membuang jauh-jauh si kisah nyata tersebut.

Dengan tiga langkah di atas, jangan merasa ‘terbebani’ oleh hal-hal yang melekat pada kisah nyata tersebut. Sebab kita bisa mengubah semuanya sesuka kita. Asalkan cerita yang kita buat tetap logis (masuk akal) dan menarik. (*)

Baca Juga :  Belajar Vulkanologi di Museum Gunungapi Merapi

 

 

*Yayan Rusyanto
Pecinta Literasi, tinggal di Cilacap, Jawa Tengah

Apa Tanggapan Anda ?