Ilustrasi tribratanews.polri.go.id

Opini

Saatnya Euforia Kelulusan Tak Lagi Corat-Coret dan Konvoi


Siedoo, Sepertinya sudah menjadi tradisi, utamanya bagi para siswa SMA/SMK saat lulus dirayakan dengan corat-coret baju dan konvoi keliling kota. Bahkan hal itu diikuti pula oleh siswa-siswi lulusan SMP.

Sekilas menurut mereka itu hal yang menarik sebagai ungkapan kegembiraan atas kelulusan mereka. Namun di sisi lain, hal itu kurang pas dengan karakter Indonesia, yang tidak lazim hura-hura berlebihan.

Euforia kelulusan dengan cara corat-coret baju dan konvoi bermotor hingga saat ini belum tampak nilai positifnya. Justru sisi negatifnya yang selalu melekat pada kegiatan tersebut.

Misalnya, baju yang telah dicorat-coret dengan cat dan spidol, praktis tak pantas digunakan lagi. Selama konvoi, baju dan rambut mereka menjadi kotor. Sehingga bagi yang beragama Islam, terhalangi syarat sah salatnya.

Belum lagi konvoi dengan motor berknalpot bobokan, sangat mengganggu warga karena menimbulkan kebisingan. Yang lebih parah, bagi pelajar yang memiliki dendam pribadi atau kelompok, acap kali konvoi menjadi ajang tawuran.

Lebih tragis dan memprihatinkan, konvoi kelulusan tidak memperhatikan peraturan berkendara dan aturan lalu lintas. Sehingga tak jarang ada siswa yang meregang nyawa akibat kecelakaan. Kelulusannya menjadi sia-sia.

Saatnya Diubah

Contoh-contoh di atas rasanya tidak dapat dipungkiri terjadi. Itu semua sangat tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Sisi negatif euforia kelulusan, saatnya diubah menjadi hal-hal positif. Sekaligus sebagai ajang unjuk karakter pelajar Indonesia.

Sebagai upaya lanjutan pendidikan karakter, beberapa daerah telah menerapkan kebijakan mengenai perayaan kelulusan. Seperti di Bojonegoro, Jawa Timur baru-baru ini.

Dinas Pendidikan Bojonegoro melarang seluruh siswa SMA/SMK di Kabupaten Bojonegoro melakukan konvoi kelulusan. Tak hanya itu, para siswa juga dilarang corat-coret usai pengumuman kelulusan.

Hal itu sabagai salah satu upaya mengurangi kebiasaan negatif siswa dalam merayakan kelulusan. Karena banyak hal lain yang lebih positif dilakukan oleh para siswa dalam merayakan kelulusan.

Baca Juga :  Mencari Bentuk Ujian Pendidikan

Seperti diunggah instagram @makasar_iinfo, tampak sebuah sekolah memanggil para orangtua siswa kelas XII. Di halaman sekolah para siswa memeluk orangtua mereka bahkan mencium kaki ibu mereka, dan peristiwa mengharukan itu dinilai positif.

Lain lagi dengan unggahan video @epenflow,tampak seorang siswa mulai mengubah aksi corat-coret baju ke hal lebih bernilai karakter. Pasalnya dalam video tersebut sang siswa mengubah seragam OSIS-nya menjadi bergambar peta Indonesia. Mirip jaket yang dikenakan Presiden RI, Joko Widodo.

Sedangkan contoh positif lain dilakukan salah satu siswa SMAN 1 Cawas, Klaten, Jawa Tengah. Begitu dirinya lulus, dia memenuhi nazar berlari dari sekolah menuju rumahnya di Tegal Gaden, Klaten berjarak 6 kilometer.

Kini saatnya para siswa SMA/SMK lain menyusul mereka dengan hal-hal positif dalam merayakan kelulusan. Masih banyak yang dapat dilakukan, begitu juga masih banyak hal yang dilakukan setelah lulus sekolah. (*)

 

 

*Yayan Rusyanto

Pemerhati pendidikan tinggal di Cilacap, Jawa Tengah.

 

 

Apa Tanggapan Anda ?