Daerah

Pejuang Sekolah, Siswa SD Berangkat Jam 3 Dini Hari hingga Jualan Siomay

JABAR- Era modern sekarang banyak fasilitas dan kemudahan yang didapatkan oleh manusia. Namun ada juga bebapa orang yang harus berjuang karena keadaan yang memaksa mereka atau mereka yang kurang beruntung secara ekonomi. Hal ini seperti yang dialami Karim Maullah dan Erwin.

Karim Maullah, berumur 10 tahun, siswa kelas 3 di Sekolah Masjid Terminal Depok, Jawa Barat (Jabar) harus berangkat sekolah menggunakan KRLcomuter line dari Kemayoran ke Depok. Ia berangkat sekolah jam 03.00 WIB dan berangkat sekolah sendirian.

Kalim berangkat menggunakan KRL sendirian karena ibunya sudah meninggal dunia tahun 2018, sakit paru-paru. Neneknya sedang sakit serta bapak dan kakeknya bekerja.

"Karim bilang ke saya, 'Sudah tidak apa-apa nek, aku berangkat sendiri, aku berani kok. Nenek sembuh aja ya dulu'," ucap Diana, nenek Karim sambil meneteskan air mata, dilansir dari tribunnews.com

Karim sekarang tinggal bersama nenek dan kakeknya. Sedangkan ayahnya tinggal di Manggarai. Neneknya bekerja mengumpulkan botol-botol bekas dan kakeknya bekerja sebagai tukang ojek.

Karim berangkat dari Stasiun Kemayoran diantar kakeknya. Setelah sampai stasiun, ia membeli tiket sendiri dan naik KRL sampai sekolahannya. Waktu yang ditempuh dengan KRL adalah 1,5 jam. Dari Stasiun Depok Baru, ia lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh  550 meter atau 7 menit menuju sekolahnya.

Karim mempunyai cita-cita menjadi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU). Ia mengaku sering melihat film perang sehingga timbul keinginan untuk menjadi TNI AU. Ia ingin menjadi TNI AU agar bisa melindungi Indonesia dan orang banyak.

Beranjak dari sosok Karim yang berjuang berangkat sekolah menaiki KRL, ada pejuang sekolah yang juga masih duduk dibangku sekolah dasar.

Sosok itu adalah Erwin Utama, berumur 9 tahun, kelas 2 di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Muttaqin, Desa Cinta Negara, Kecamatan Cisurupan, Garut, Jawa Barat. Erwin berjualan siomay untuk membiayai sekolah.

Disaat teman-temannya bermain, Erwin dengan senang hati berjualan siomay untuk mendapatkan uang jajan. Erwin berjualan untuk meringankan beban orangtuanya yang bekerja sebagai petani.

Erwin memikul gerobak siomay dari rumah ke sekolah yang berjarak 200 meter. Siomay ini dia ambil dari tetangganya. Walaupun berjualan, Erwin tidak pernah membolos pelajaran. Ia melayani pembeli saat istirahat saja.

Erwin mendapatkan upak dari pemilik gerobak yaitu 30% dari seluruh dagangan yang berhasil ia jual.

"Kadang dapat 5 ribu atau 6 ribu, uangnya buat jajan," ujar Erwin dilansir dari mediadesa.id

Erwin dan Karim adalah dua dari banyak siswa sekolah yang berjuang untuk sekolah. Mereka mempunyai semangat tinggi untuk mendapatkan pendidikan yang menjadi hak mereka. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?