Nasional

Antisipasi Persoalan Evakuasi Korban Erupsi Merapi Lewat Pelatihan

MAGELANG - Proses evakuasi warga lereng Gunung Merapi, Jawa Tengah pada saat erupsi tahun 2010 lalu, banyak menimbulkan kesemrawutan dan kepanikan yang cukup berarti. Diantaranya terjadi ketidakjelasan tempat pengungsian yang dituju. Bahkan, warga harus beberapa kali pindah lokasi.

Demikian disampaikan Ketua Tim Program Pengembangan Desa Mitra dari Universitas Muhammadiyah Magelang (PPDM UM Magelang) Kanthi Pamungkas Sari saat pembukaan Pelatihan Manajemen Mitigasi Bencana Erupsi Gunung Merapi Berbasis Sister Village (Desa Bersaudara) di Aula Kantor Kepala Desa Deyangan Kecamatan Mertoyudan awal bulan ini.

“Padahal lebih dari 22.500 orang pengungsi tersebar di 152 titik tanpa koordinasi. Kesemrawutan juga terjadi dalam manajemen pengungsian termasuk dalam pengelolaaan logistiknya. Selain itu banyak warga pengungsi mengalami bencana bukan hanya dari awan panas tetapi karena kesemrawutan pada saat proses evakuasi,” lanjut Kanthi yang juga dosen sosiologi.

Sebagai upaya meminimalisir masalah-masalah yang muncul tersebut maka sejak 2011, lanjutnya, Pemerintah Kabupaten Magelang mengadakan program sister village. Saat ini terdapat 19 sister village dengan melibatkan 19 desa dari Kawasan Resiko Bencana III (KRB III) dan 43 Desa Penyangga yang telah ditetapkan dan mendapatkan legalisasi pemerintah daerah.

"Namun karena keterbatasan sumber daya yang dimiliki, program belum berjalan sebagaimana yang diharapkan," tandasnya.

Guna mendukung program pemerintah kabupaten itu, maka Tim PPDM UM Magelang yang beranggota Priyo, M.Kep; Ahwy Oktradiksa, M.Pd.I; Agus Setiawan, M.Kom, melalui Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Kemenristekdikti melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat dengan tema utama Mewujudkan Deyangan Sebagai Desa Penyangga Tangguh dalam Implementasi Sister Village selama tiga tahun.

“Pelatihan yang diikuti 36 peserta ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan tahun kedua kami. Tahun kedua ini kami akan fokus ke empowering. Tahun pertama rangkaian kegiatan kami fokus pada kegiatan enabling," jelasnya.

Rencananya tahun ketiga fokus ke protecting yang diarahkan pada kemandirian atas pengelolaan potensinya serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat bersama antara Desa Krinjing Kecamatan Dukun dengan Desa Deyangan.

Sebagai pesertanya BPD, Kades, Sekdes, OPRB dan LPBD dari Desa Krinjing dengan Desa Deyangan. Dasar kegiatan tim diantaranya adalah Perda Kabupaten Magelang No 3 Tahun 2014, Perbup No 18 Tahun 2016 dan Surat Kesepakatan Bersama antara Pemerintahan Desa Deyangan Kecamatan Mertoyudan, dan Pemerintahan Desa Krinjing Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang Nomor: 140/010/XI/2014 dan 140/001/XI/2014 tertanggal 10 Nopember 2014 telah ditetapkan sebagai Desa Bersaudara

Adapun materi pelatihan manajemen mitigasi bencana tersebut diantaranya tentang Kebijakan Pemerintah Kabupaten Magelang terkait Mitigasi Bencana Erupsi Gunung Merapi Berbasis Sister Village, disampaikan Ir. Gunawan Iman Suroso, MM; Filosofi Mitigasi Bencana Erupsi oleh Drs. Joko Sudibyo, MT.

Lalu ada Manajemen dan Penyusunan Rencana Kontinjensi Menghadapi Erupsi Gunung Merapi Berbasis Sister Village oleh Budi Santosa S.Psi (Ketua Divisi PRBK MDMC PP Muhammadiyah) Motivasi Trainning oleh Choirul Amin, M.Kep. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?