Daerah

Santri Masuk Desa Belajar Mandiri di Tengah Kesederhanaan

MAGELANG – Lingkungan masyarakat adalah suatu hal yang tidak bisa dihindari oleh siapapun. Anak sekolah pun juga harus belajar dan memiliki pengetahuan dalam hal kemasyarakatan. Hal tersebut tentunya dapat membangun jiwa sosial bagi para pemuda penerus bangsa.

Sebagai sekolah berbasis boarding school, SMA IT Ihsanul Fikri, Pabelan, Mungkid, Magelang, Jawa Tengah mengadakan SDM (Santri Masuk Desa) sebagai salah satu kurikulumnya. Teknisnya siswa diterjunkan langsung di lingkungan masyarakat, seperti halnya dengan KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang dilakukan mahasiswa.

“Selama 1 pekan, siswa tinggal di salah satu rumah warga. Selama itu siswa melakukan kegiatan yang berbaur langsung dengan masyarakat setempat,” kata Kepala SMA IT Ihsanul Fikri, Dra. Nur Cahyo Hidayati.

Kegiatan tersebut sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dan sudah berjalan sejak sekolah didirikan pada 2009 hingga sekarang . Dimaksudkan agar siswa lebih mengenal lingkungan sekitar.

“Rata-rata siswa dari kalangan keluarga menegah ke atas, jadi mereka bisa merasakan dan belajar hidup mandiri dengan keseharian yang sederhana. Selain itu siswa juga ikut membantu pengajaran edukasi agama dan ketrampilan di TPA setempat,” tambahnya.

Kegiatan yang dilakukan siswa di tengah masyarakat meliputi aktifitas masyarakat seperti, ikut jual beli bahkan ikut dalam kegiatan bertani mencocok tanam atau panen. Hasil yang didapat dari kegaiatan tersebut membuat siswa menemukan suatu edukasi baru yaitu bersosial di masyarakat, yang sebelumnnya selama ini mereka hanya mendapat pengajaran akademik di sekolah.

“Sebelumnya kami berkoordinasi dengan pemerintah desa yang kami pilih sebagai tempat untuk kegiatan Santri Masuk Desa. Setiap 1 dusun ada rombongan siswa berjumlah 10 anak,” jelasnya.

Waka Kurikulum SMA IT Ihsanul Fikri, Mualimin, M.Pd mengatakan pihak sekolah mengamati secara rutin kegiatan siswa selama di lapangan. Setelah kegiatan tersebut usai, ternyata respon dari masyarakat sangat baik.

“Bahkan kami mendapat permintaan dari warga setempat agar kegiatan tersebut dilanjutkan,” tuturnya.

Sekolah yang dinaungi oleh Yayasan Tarbiatul Mu’min tersebut, pada 2019 ini sudah mencetak 56 siswa pengahafal Alquran yang sebelumnya pada 2018 lalu sudah mencetak 51 siswa penghafal Alquran.

Dalam aktivitas harian, setiap hari siswa ada program memperbagus dan  mengulang hafalan Alquran. Selain itu pada 2017/2018 sudah mengoleksi 51 juara baik tingkat kabupaten, provinsi maupun nasional. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?