Siswa SD Kelas 1 dan Kelas 2. (foto: tribunnews.com)

Daerah

Di Kota Ini Semua SD Hapus Calistung Mulai Tahun Ajaran 2019


MALANG – Inovasi besar akan dilakukan Dinas Pendidikan Kota Malang, Jawa Tengah. Yakni mulai tahun ajaran 2019 ini, semua SD wajib menghapus mata pelajaran baca tulis dan menghitung (calistung) untuk siswa kelas 1 dan 2.

Kebijakan ini memang ada perubahan. Awalnya Disdik hanya akan menerapkan di lima SD percontohan saja. Belakangan, kebijakan itu diralat setelah ada berbagai masukan dari para pakar pendidikan.

”Setelah observasi, bertemu pakar pendidikan, dan masukan dari beberapa pihak, akhirnya ya diputuskan semua sekolah (hapus calistung),” terang Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang Dra. Zubaidah, dilansir radarmalang.id.

Zubaidah menyatakan, pertimbangan tersebut diambil lantaran jika hanya lima sekolah saja yang dipilih, bisa memicu protes orang tua. Ditakutkan, ada protes dari orang tua siswa yang masuk di sekolah noncalistung.

”Dianggap percobaan yang gimana-gimana. Padahal pemilihan sekolah berdasarkan kemampuan sekolah melatih siswa,” jawab dia.

Sementara terkait kurikulum, imbuh Ida, sapaan Zubaidah, sudah digodog matang dan siap diterapkan. Intinya, calistung diganti dengan pendidikan karakter. Siswa tidak diajari banyak teori, tapi langsung praktik perilaku yang baik.

“Kedisiplinan maupun kesopanan di antaranya. Tidak keluar dari kaidah kurikulum 2013. Yang jelas kami ingin anak-anak ini menikmati masa pertumbuhan mereka,” ujar dia dilansir jpnn.com.

Pihaknya juga mengimbau, untuk penerimaan peserta didik baru di seluruh sekolah jangan ada lagi pemetaan siswa dari tes calistung. Ke-279 sekolah swasta dan negeri harus sudah siap-siap menerapkan pembebasan calistung.

”Iya, kami sosialisasikan dan ada bimbingan terkait kurikulumnya ke semua sekolah,” tutur Ida.

Sementara, Wali Kota Malang Sutiaji menyatakan calistung ini sendiri sudah masuk dalam rancangan awal rencana strategis (renstra) Dinas Pendidikan Kota Malang tahun 2019-2023. Ini tidaklah hanya sekadar wacana, akan tetapi menjadi sebuah program yang akan diwujudkan dalam kurun waktu 5 tahun ke depan.

Baca Juga :  Syarat Utama Masuk SD Bukanlah Tes Calistung, Melainkan...

”Jadi bukan uji coba setahun dua tahun. Insya Allah, berlangsung terus,” jawab dia.

Terkait kontra dari wali murid, dia pun sudah mempertimbangkan dengan baik. Sehinggga tidak perlu khawatir karena kurikulumnya sudah disesuaikan. Tidak bakal anak-anak itu tidak pintar gara-gara bebas calistung tersebut.

Sutiaji mengatakan adanya bebas calistung diperlukan untuk perkembangan sensor motorik anak-anak. Karena di umur-umur itu otak kiri-kanan anak, serta sensor motoriknya sedang bagus-bagusnya.

“Ini adalah waktu yang tepat untuk menanamkan pendidikan karakter bagi generasi kita,” jelas Sutiaji.

Sementara, saat mengecek kesiapan kurikulum yang telah disusun, Dewan Pendidikan juga sempat memberi masukan dan rumusan terkait seperti apa kurikulum untuk siswa kelas satu dan dua.

Ketua Dewan Pendidikan Malang Prof. Dr. M. Amin S.Pd M.Si menyatakan, pengganti kurikulum yang berunsur calistung, nanti bobotnya lebih banyak pendidikan karakter.

“Ya yang berkaitan dengan masyarakat, lalu sikap, kepatuhan, dan yang berkaitan dengan seperti apa karakter itu, pengenalanlah namanya,” ucap Amin.

Masalah efektivitas kurikulum noncalistumg, dosen biologi ini menyatakan, dipastikan berhasil. Karena materinya kan sudah disusun oleh tim ahli. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?