Putra Aji Adhari (15), hacker remaja asal Larangan, Tangerang, Banten ini pernah pernah meretas situs milik National Aeronautics and Space Administration (NASA). Ia ingin menjadi white hat dan membantu para pemilik situs termasuk pemerintah. (foto: kompas.com)

Teknologi Tokoh

Jempol, Meski Pernah Meretas Situs NASA, Remaja Ini Tak Mau Jadi Hacker Jahat


Siedoo, Putra Aji Adhari (15), remaja asal Larangan, Tangerang, Banten ini pernah pernah meretas situs milik National Aeronautics and Space Administration (NASA). Bahkan ia mengaku sudah ratusan kali melakukan pengecekan keamanan terhadap berbagai instansi, mulai dari situs instansi bisnis, perbankan, maupun e-commerce.

Ingatkan Pemerintah

Namun, yang paling sering dicek adalah kelemahan sistem situs-situs milik pemerintah. Ia mengatakan, tingkat keamanan situs pemerintah berlevel sedang, sehingga cukup rawan disusupi para hacker (peretas situs).

Akibat lemahnya keamanan situs pemerintah, Putra mengingatkan untuk memperbaiki proteksi keamanan situs pemerintah.

“Tapi tingkat keamanan dari situs pemerintah itu beda-beda sih tergantung developer-nya juga,” kata Putra dilansir dari kompas.com.

Putra mengaku hanya membutuhkan waktu sekitar 60 menit untuk menemukan celah kelemahan sistem situs pemerintah. Bahkan, ia pernah menemukan bug (celah) dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Catatan waktu itu cukup kontras jika dibandingkan dengan instansi-instansi swasta yang biasanya membutuhkan waktu satu hari.

Berbagai macam situs pemerintah sudah pernah ia retas, mulai dari situs pemerintah kota, provinsi, kementerian, Komisi Pemilihan Umum (KPU) hingga Badan Narkotika Nasional (BNN).

“Kalau (situs) pemerintah itu biasanya bisa masuk ke database, jadi data-data yang ada sama pemerintah bisa dilihat,” ujarnya dilansir tribunnews.com.

Data yang bisa dilihat cukup lengkap, mulai dari nama, tempat tanggal lahir, hingga kediaman setiap warga yang masuk dalam database tersebut. Database itu kemudian bisa dijual para Black Hat Hacker ke berbagai pihak dan disalahgunakan.

“Kebanyakan data-data itu dijual para black hat ke dark web,” kata Putra.

Tak Mau Jadi Hacker Jahat

Meski bisa menghasilkan banyak uang, Putra menegaskan tidak akan menjadi hacker jahat atau biasa dikenal dengan Black Hat Hacker. Putra tidak mau terlibat tindak kriminal dan menghasilkan uang haram dari hasil peretasan.

Baca Juga :  Rincian yang Diterima dalam SBMPTN 2018

“Kalau black hat uangnya lebih gede, tetapi kita bisa kena pasal, terus haram juga. Kalau white hat biar pun pendapatannya sedikit, tetapi bermanfaat buat orang lain, menguntungkan dan juga halal,” ujar Putra.

Saat meretas sebuah situs, kemudian Putra menginformasikan kepada instansi atau perusahaan yang diretasnya. Kebanyakan, perusahaan-perusahaan tersebut memberikan sertifikat penghargaan dan plakat kepadanya dan dipajang di kamar pribadinya.

Putra mengatakan, jika celah-celah tersebut ditemui orang yang salah, dapat berefek cukup besar bagi instansi tersebut. Mulai dari bocornya database perusahaan, mengutak atik server, pemalsuan data, hingga mematikan server instansi yang diretas.

Ia mencontohkan situs KPU yang berhasil ia retas beberapa waktu lalu. Putra mengaku menemukan Daftar Pemilih Tetap (DPT) di setiap wilayah Indonesia, kemudian ia melaporkan celah itu ke KPU.

Itu karena Putra tak mau dianggap sebagai kriminal yang melakukan tindak kejahatan dan dijebloskan ke penjara. Selain itu, ia selalu mengingat ajaran orangtuanya untuk selalu mencari pekerjaan yang halal.

Sayangkan Respons Lamban

Meski senang melaporkan kelemahan-kelemahan ke pemilik situs, namun ia menyayangkan lambannya respons pemerintah terkait laporan temuan tersebut.

“Biasa lama responsnya, kadang dibalas kadang enggak atau kadang cuma diucapin terima kasih saja,” ungkap Putra.

Bagi Putra, imbalan bukan menjadi prioritas utama. Ia ingin terus mengembangkan kemampuannya di dunia teknologi informasi hingga akhirnya bisa mewujudkan mimpi seperti idolanya, Bill Gates dan Mark Zuckerberg. (*)

Apa Tanggapan Anda ?
Ucapan Pemkot