Daerah

Tiga Pihak Gagas Pendidikan Inklusi di Perguruan Tinggi

KEBUMEN – Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif PWNU Jawa Tengah bekerjasama dengan Unicef, dan IAINU Kebumen menggagas pendidikan inklusi di perguruan tinggi dalam dialog interaktif di IAINU Kebumen, Ahad (17/3/2019). Hadir dalam kesempatan ini, Ketua LP Ma’arif PWNU Jateng R. Andi Irawan, M.Ag dan jajarannya, perwakilan Unicef, dan Rektor IAINU Kebumen Dr. Imam Satibi, M.Pd.

Koordinator implementasi MoU LP Ma’arif dan Unichef, Sahidin, berharap agar perguruan tinggi turut aktif menyukseskan pendidikan inklusi. Ia ingin IAINU tersebut menjadi perguruan tinggi yang bermanfaat bagi masyarakat Kebumen. “Mudah-mudahan menjadi tujuan masyarakat untuk memasukkan anak-anaknya ke sini (IAINU Kebumen),” katanya.

Di Kebumen, kerjasama tersebut dimulai tahun 2014. Di akhir kerjasama itu, ada suplemen program terkait program inklusi, yang sasaran adalah MI Sidomulyo. “Setelah program inklusi selesai, dinilai sangat berhasil. Dari 11 provinsi yang ada di Indonesia dianggap paling berhasil, sehingga dilirik oleh Unicef,” lanjut dia.

Untuk tahap I adalah meningkatkan kapasitas guru dalam rangka pendidikan inklusi di madrasah. Tahap II dilanjutkan capacity building. Unicef mengharapkan Ma’arif menginisiasi untuk masuk ke perguruan tinggi di Jawa Tengah.

"Ini juga hasil kerja kerasnya Pak Rektor untuk pendekatan dengan Unicef. Yang di Unicef, Bu Anisah, berasal dari Kebumen," jelasnya.

Perguruan tinggi yang lain adalah UNU Banyumas, dan UIN Walisongo. Selama ini perguruan tinggi harus sensitif gender. “PTN saja belum memikirkan hal ini. Kami melakukan di kampus kami sendiri juga agak berat,” katanya.

Di antara penilaian akreditasi ini ada sensitif inklusi, sensitif gender, sensitif keselamatan. “Saya tidak tahu pascaakreditasi nanti akan tetap seperti itu atau bagaimana. Nanti kita coba bersama-sama kita kembangkan, karena standarnya belum ada. Yang mendorong standar inklusi itu Ma’arif Jawa Tengah. Ma’arif mendorong Kementerian Agama (Kemenag) untuk menjadikan madrasah inklusi,” paparnya.

Sementara itu, Rektor IAINU Kebumen Dr. Imam Satibi, M.Pd mengatakan IAINU adalah bagian aset NU, yang tidak lepas dengan hal-hal dengan NU.

Menurut dia, kebutuhan inklusi adalah panggilan agama, dan keberpihakan pada masyarakat yang terpinggirkan. Hal ini adalah bagian dari SDG’s yang mendorong pendidikan inklusi.

“Saya menginginkan Kebumen ikut dalam program inklusi, termasuk peningkatan akreditas. Terkait inklusi, kita sudah banyak bersinergi. MI Sidomulyo adalah bagian dari IAINU Kebumen, jangan sampai putus asa dalam pengembangan inklusi. Di IAINU sudah kita workshop-kan, diantaranya program inklusi, PGMI. Saya ingin Kemenag menbuka program inklusi,” harapnya.

Sedangkan Ketua LP Ma’arif PWNU Jateng, R. Andi Irawan, M.Ag mengatakan pendidikan inklusi berangkat dari keprihatinan, pendidikan inklusi masih banyak yang belum mengenal. Ada sebagian kelompok masyarakat yang tidak mendapatkan hak-haknya. Terutama, pendidikan dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi.

“Unicef punya perhatian yang besar terhadap pendidikan inklusi. Kalau bicara regulasi sebenarnya sudah cukup bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang demokratis, berkeadilan dan tidak diskriminatif,” katanya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?