Karya teknologi E-FALS mengantarkan tiga mahasiswa Universitas Brawijaya meraih karya terbaik ketiga dalam kompetisi Technocorner 2019. (foto: ub.ac.id)

Teknologi Tokoh

Bantu Penderita ALS, Mahasiswa Universitas Brawijaya Kembangkan E-FALS


Siedoo, Tiga mahasiswa angkatan 2016 Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya (FILKOM-UB), Malang, Jawa Timur berhasil meciptakan alat bantu komunikasi bagi penderita Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS). Mereka adalah Axel Elcana Duncan (PS. Teknik Komputer), Muhajir Ikhsanushabri (PS. Teknik Komputer) dan Rachmalia Dewi (PS. Teknik Informatika).

ALS merupakan penyakit saraf degeneratif yang mengakibatkan semua gerakan refleks atau spontan pada otot mengalami kelumpuhan progresif. ALS umumnya ditandai dengan adanya degenerasi atau kemunduran secara bertahap yang menghasilkan kematian sel-sel saraf di otak dan sumsum tulang belakang.

Kemunduran pada penderita ALS ini dapat menyebabkan kehilangan kendali pada otot. Serta mengalami kelumpuhan sehingga otot penderita tidak mampu untuk menggerakkan bibir dalam melakukan komunikasi secara langsung.

Mengingat komunikasi adalah kebutuhan setiap orang termasuk penderita ALS, maka untuk itulah E-FALS dibuat. E-FALS dibuat menyerupai kacamata dan memanfaatkan sistem Electrooculography (EOG) agar dapat membaca pergerakan bola mata dan mengenali karakter yang ditulis dari pergerakan tersebut.

E-FALS, alat bantu komunikasi bagi penderita Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) karya mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur. (foto: ub.ac.id)

Hasil dari sistem ini dapat berupa tulisan yang ingin disampaikan oleh penderita ALS untuk kemudian dikirimkan ke aplikasi E-FALS di android pengguna lain. Selain itu, E-FALS juga memiliki dua fitur unggulan lain.

Pertama, fitur tambahan untuk memudahkan penderita ALS dalam mengirimkan pesan darurat ke rumah sakit tertentu dalam jaringan E-FALS. Kedua, fitur untuk mengetahui perkembangan dari otot mata penderita ALS secara berkala melalui grafik. Grafik itu menunjukkan peningkatan atau penurunan kerja otot pada mata penderita ALS.

Harga terjangkau

“Sebetulnya alat serupa sudah ada tapi harganya sangat mahal. Dengan E-FALS ini bisa lebih terjangkau harganya sehingga harapannya bisa dimanfaatkan oleh penderita ALS secara lebih meluas,” jelas Axel.

E-FALS telah membawa Axel beserta timnya meraih juara 3 dalam kompetisi Technology Imagine (Technogine) 2019 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Fisika, Universitas Telkom pada akhir Februari 2019 lalu. Tidak berpuas diri di situ Axel kemudian mengembangkan fungsi E-FALS tidak hanya untuk berkomunikasi, tapi juga untuk menggerakkan kursi roda.

Baca Juga :  Athalia Wynne, Pelajar Jago Dribble Asal Magelang

Pengembangan fungsi ini kemudian menjadikan E-FALS meraih karya terbaik ketiga dalam kompetisi Technocorner 2019, Sabtu (9/3-10/3/2019).

Dalam pengembangannya Axel menggandeng dua rekan yang berbeda. Yaitu Titus Christian (Teknik Informatika/2016) dan Kezia Amelia Putri (Teknik Komputer/2017) dengan dosen pembimbing Dahnial Syauqy, S.T., M.T., M.Sc.

Dalam kompetisi Technocorner 2019, karena E-FALS telah memiliki tambahan fungsi maka dipertimbangkan perubahan nama alat menjadi Smart Googles for ALS Patient (SGAP). Axel mengaku akan terus mengembangkan karyanya ini hingga kemudian benar-benar dapat digunakan oleh para penderita ALS. (*)

Apa Tanggapan Anda ?
SD Mutual Kota Magelang