UGM selenggarakan Australia Update 2019. foto : Humas UGM

Internasional

Gandeng Berbagai Pihak, UGM Mengulas Situasi Domestik Australia


YOGYAKARTA – Masyarakat Australia dan Indonesia perlu lebih banyak mengenal satu sama lain. Ini  karena posisi kedua negara yang dekat secara geografis. Selain itu, Indonesia dan Australia memiliki kepentingan yang sama untuk mewujudkan kawasan yang damai dan kondusif.

“Kita berada di kawasan yang sama, dan kita sama-sama tengah menghadapi berbagai perubahan berkaitan dengan teknologi dan yang lainnya. Dalam kondisi ini kita memerlukan lebih banyak kerja sama yang fungsional,” kata Duta Besar Australia untuk Indonesia, H.E. Gary Quinlan.

Ia mengutarakan itu berkaitan dengan Australia Update 2019 dengan tema “Situasi dan Dinamika Dalam Negeri Australia Terkini: Peluang dan Tantangan terhadap Hubungan Bilateral dengan Indonesia”, di Auditorium Sekolah Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Selasa (12/3/2019). Acara itu untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang Australia serta hubungannya dengan Indonesia.

Australia Update 2019 diselenggarakan melalui kolaborasi antara Departemen Ilmu Hubungan Internasional UGM dengan Kedutaan Besar Indonesia di Canberra, Kedutaan Besar Australia di Jakarta, Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kegiatan ini terbagi ke dalam 3 sesi yang masing-masing akan mengulas aspek politik, ekonomi, serta sosial budaya dari situasi domestik Australia.

Sesi pertama bertema “The Dynamics of Political Situation in Australia” menghadirkan jurnalis senior the West Australian, Nick Butterly dan Dosen HI UGM Dafri Agussalim, Ph.D sebagai pembicara, sementara sesi kedua bertema “Australia’s Economic Current Condition and Its Policies: Opportunities and Challenges” diisi oleh pemaparan Dr. John Hewson dari Crawford School of Public Policy, Australia National University, Alison Duncan selaku Minister-Counsellor for Economics, Australian Embassy, dan Della Temenggung selaku Deputy Director – Advisory and Policy, Prospera.

Baca Juga :  Beda Nasib UGM dan UNY dalam Kompetisi Internasional di Jepang

Pada sesi ketiga, isu yang dibahas adalah “Australian Multicultural Life and the Australian Perspective towards Indonesia” dengan pembicara Ben Bland selaku Director of South East Asia Project, Lowy Institute, Dave Pebbles selaku Minister-Counsellor for Political & Strategic Communications, Australian Embassy, serta editor senior Jakarta Post, Endy Bayuni.

Seperti diketahui, hubungan bilateral antara Indonesia dan Australia telah berlangsung lama dan terus berkembang dari waktu ke waktu. Di samping kerja sama antara kedua pemerintah, hubungan ini juga ditopang oleh interaksi masyarakat kedua negara.

“Di tingkat pemerintah ke pemerintah, kita sangat solid, tapi sayang sekali kalau ini tidak dikapitalisasi menjadi sesuatu yang memberi manfaat kepada kedua negara,” jelas Duta Besar Indonesia untuk Australia dan Selandia Baru, H.E.Y. Kristiarto S. Legowo.

Menurut Kristiarto di bidang ekonomi, kedua negara telah menandatangani Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IACEPA), sebuah perjanjian yang ditujukan untuk meningkatkan hubungan ekonomi serta membuka jalan bagi kesempatan bisnis baru kedua negara. Meski perkembangan aktivitas bilateral kedua negara menunjukkan tren yang positif, tantangan hubungan bilateral menurutnya terjadi di tingkat akar rumput.

Kurangnya pemahaman yang jelas dan akurat di antara masyarakat Indonesia dan Australia menurutnya dapat memicu prasangka dan kesalahpahaman di antara kedua negara. “Kalau hubungan kedua masyarakat baik, maka pondasi bilateral akan kuat dan tidak mudah digoyahkan oleh riak-riak yang muncul,” terangnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?
SD Mutual Kota Magelang