Nasional

Tahun 2019, Kemendikbud Perkuat Pendidikan Karakter di 218.989 Sekolah

TANGERANG - Tahun ini Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) ditargetkan untuk diterapkan di 218.989 sekolah. Untuk jumlahnya meningkat pesat dari awal program ini dimulai pada 2016 yang hanya dilaksanakan di 542 sekolah. Melonjak menjadi 64.213 sekolah di 2017, sementara pada 2018 jumlahnya 188.646 sekolah.

Pendidikan karakter anak sangat penting dalam menyiapkan anak didik di generasi yang akan datang. Terlebih untuk mewujudkan generasi emas di era globalisasi.

“Pendidikan karakter itu tidak hanya sopan santun, tetapi karakter pekerja keras, jujur, mandiri, disiplin, berani ambil risiko, dan juga nasionalisme tinggi,” kata Sekjen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Didik Suhardi saat diskusi pendidikan di Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, dilansir sindonews.com.

Didik menyampaikan, untuk melihat hasil dari PPK memang tidak bisa dalam waktu cepat karena termasuk ke dalam investasi pendidikan yang memerlukan proses jangka panjang.

“Apa yang kita lakukan (PPK) 15–20 tahun lagi bisa dilihat, karena tidak seperti bangunan yang langsung kelihatan gedungnya,” ujarnya dilansir datariau.com.

Namun, saat ini tanda-tanda PPK berhasil dijalankan sudah bisa terlihat, misalnya tingkat kedisiplinan siswa makin bagus. Hal ini bisa dilihat dari Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang meningkatkan integritas anak-anak dibandingkan beberapa tahun lalu.

Ditulis tribunnews.com, Didik Suhardi menyampaikan, dulu di mana UN masih berbasis kertas masih memungkinkan siswa untuk mencontek ataupun guru membantu menjawab soal. Namun, kini dengan UTBK integritas siswa meningkat dan siswa pun senang mengerjakan soal berbasis komputer itu.

Pada jenjang TK dan SD, penanaman karakter termasuk yang fokus dilakukan. Dia menyampaikan tujuan akhir pendidikan karakter adalah budaya. Sebab nanti anak-anak pun bisa memiliki budaya antre, disiplin, kerja keras, jujur, mandiri yang akan menjadi bagian karakter anak di masa depan.

“Makanya jangan sampai anak-anak kita dieksploitasi di TK (taman kanak-kanak) untuk calistung, tapi penanaman karakter malah lupa,” jelasnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?