Hamidulloh Ibda

Advertorial Opini

Penguatan Pendidikan Seni untuk Memajukan Kesenian Barong


Siedoo, Kebudayaan Indonesia sangat beragam, baik benda maupun tak benda harus dikuatkan sejak dini melalui pendidikan. Penguatan pendidikan seni menjadi jalan terbaik untuk memajukan kebudayaan Nusantara. Apalagi tantangan bangsa ini dihadapkan pada “gajah besar” bernama Revolusi Industri 4.0. Era ini jelas mendisrupsi (baca; mencerabut) segala sendiri kehidupan, termasuk kebudayaan dan kesenian lokal Nusantara.

Barong atau barongan merupakan salah satu bentuk kebudayaan khas Nusantara yang menjadi landmark, khususnya di Jawa Tengah. Salah satu kabupaten yang mendedikasikan diri sebagai “kota barong” adalah Blora. Sejak 2009, lebih dari 600 seniman barongan mendeklarasikan diri sebagai “kota barong” dengan disusul adanya Festival Barong Nusantara sampai tahun kemarin.

Di Blora, budaya lokal ini menjadi keunggulan yang merupakan produk masa lalu dan mengandung nilai-nilai luhur yang dijadikan pegangan hidup.  Barong memiliki ciri khas yang tidak dimiliki daerah lain. Nilai-nilai kearifan lokal yang melekat pada barong meliputi kekeluargaan, kesederhanaan, tegas, keras, kompak, keberanian, dan spontanitas. Untuk itu, kesenian barong harus dimajukan karena menjadi bagian dari warisan budaya Nusantara.

Permasalahannya, di era Revolusi Industri 4.0 ini, kesenian mulai tercerabut dengan perkembangan teknologi super cepat. Anak-anak dan pelajar saat ini tidak disibukkan bermain seni, melainkan sibuk bermain gawai setiap harinya. Sampai Desember 2018, pelajar Indonesia menjadi salah satu pengguna teknologi tertinggi di dunia. Dalam penggunaan ruang komputer (40%) dan menduduki peringkat kedua tertinggi di dunia dalam penggunaan komputer desktop (54%) setelah Amerika Serikat (bbc.com, 11/12/2018).

Kegemaran bermain gawai membuat mereka tergerus arus global dan melupakan tanggungjawab untuk memajukan kebudayaan. Thomas Lickona (Sutawi, 2010) mencatat 10 tanda kehancuran suatu bangsa. Salah satunya adalah menurunnya rasa tanggungjawab individu dan warga negara termasuk melupakan kebudayaan dan kesenian bangsanya sendiri.

Baca Juga :  Pendidikan Puasa dan Dampaknya ke Kesehatan

Belum lagi, gempuran faham transnasional yang membenturkan nasionalisme dan religiositas yang menjadikan pelajar kita tidak mencintai budayanya sendiri. Jika ini dibiarkan, tentu akan mengancam kebudayaan dan kesenian bangsa ini.

Warisan Budaya Tak Benda

Statistik Kebudayaan 2016 Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud, 2016: 22) menyebut Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) atau Intangible Cultural Heritage Nusantara sampai 2016 sangat melimpah. Dari catatan itu, ada 6.238 warisan dari 34 provinsi di Indonesia. Paling banyak ada Provinsi Jawa Barat dengan total 437 dan paling sedikit Kalimantan Utara hanya 21 WBTB.

WBTB itu terdiri atas beberapa variabel. Pertama, adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan sejumlah 1.368. Kedua, kemahiran dan kerajinan tradisional sejumlah 1.656. Ketiga, pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam semesta ada 668. Keempat, seni pertunjukan ada 1.209. Kelima, tradisi dan ekspresi lisan sejumlah 1.337 (Kemdikbud, 2016: 23).

Barong Blora sendiri, tahun 2017 telah ditetapkan Kemdikbud dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Artinya, kesenian ini semakian diakui pemerintah dan otomatis perlu cetak biru untuk memajukannya terutama melalui penguatan pendidikan seni. Mengapa? Jawa Tengah sendiri sampai 2016 memiliki 401 WBTB. Jika tidak dikuatkan, pasti lambat laun akan punah.

Penguatan Pendidikan Seni

Penguatan pendidikan seni sangat strategis untuk memajukan kesenian barong. Untuk itu, perlu cetak biru dalam menguatkan pendidikan seni. Pertama, integrasi kesenian barong dalam pembelajaran di sekolah, dari kurikulum, silabus hingga RPP. Dalam pembelajaran, guru harus mengintegrasikan nilai-nilai atau kearifan barongan sebagai sumber pembelajaran siswa. Dengan integrasi nilai-nilai kesenian ini ke dalam pembelajaran, maka mental inlander dapat teratasi. Jangka panjangnya, meminimalkan pengaruh negatif budaya luar khususnya budaya barat yang dibawa oleh internet di era Revolusi Industri 4.0 ini.

Baca Juga :  Puasa, Ibadah yang Sangat Rahasia

Kedua, pendidikan seni berbasis produk. Artinya, perlu ada produk seni yang jelas dan terukur baik jenjang SD sampai SMA yang berorientasi pada seni pertunjukan, tari, atau lagu. Ketiga, adanya ekstrakurikuler melalui sanggar barong anak yang sangat relevan dengan penerapan kurikulum 2013.

Keempat, pelibatan keluarga dan masyarakat sebagai wujud implementasi Permendikbud RI No. 30 Tahun 2017 tentang Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan. Keluarga dan masyarakat melalui sanggar barong, grup, atau paguyuban barong menjadi jurus jitu untuk mendukung penguatan pendidikan seni.

Hal ini tentu sesuai amanat Ki Hajar Dewantara (1935) bahwa pendidikan harus menyinerikan Tri Sentra Pendidikan, yaitu alam keluarga, alam perguruan, dan alam pergerakan pemuda. Kemitraan Tri Sentra Pendidikan ini diharapkan membangun ekosistem pendidikan yang mampu menumbuhkembangkan karakter dan budaya berprestasi terutama dalam hal kesenian.

Kelima, sinergitas antara sekolah, seniman, dewan kesenian daerah, dan praktisi seni barong. Artinya, menguatkan pendidikan seni tidak sekadar tugas sekolah, namun semua elemen harus dilibatkan agar terwujud harmonisasi budaya untuk memajukan kesenian itu sendiri. Keenam, perlu pembelajaran, ketaladanan, dan pembiasaan berkesenian tiap hari. Melalui kegiatan menari, menyanyi, dan belajar di sanggar barong tiap sekolah, maka akan terwujud jiwa seni yang tinggi pada siswa.

Memajukan Kesenian Barong

Sebagai WBTB, kesenian barong sangat adiluhung dan setara dengan Reog Ponorog, Barong Bali, dan kesenian lainnya. Meski tidak sefamiliar reog, dan barong Bali, barongan Blora memiliki keunikan tersendiri karena secara fisik sangat sederhana dan mudah dibuat. Di Blora sendiri, berbagai macam upaya telah dilakukan, termasuk menggelar Festival Barong Nusantara tiap tahunnya. Untuk itu, perlu usaha keras untuk memajukan kesenian barong melalui pendidikan seni.

Baca Juga :  Pudarnya "Kesakralan" Sebuah Ujian

Memajukan kesenian barong dalam konteks ini ada beberapa aspek. Pertama, dari segi fisik barongnya dan alat musiknya. Caranya, dengan membuat sentra kerajinan barong dan alat musik seperti kendang, ketipung, saron, demung, kethuk, jaranan, dan lainnya yang dimasukkan ke dalam sekolah. Tiap sekolah perlu dididik untuk menjadikan hal itu sebagai edupreneurship yang menjadi bagian dari pengembangan oleh-oleh khas yang dapat dijual, dan dijadikan buah tangan para wisatawan.

Kedua, seni pertunjukan, cara dengan membuat gerakan, tarian, drama, dan seni pertunjukan yang menyesuaikan zaman. Di sekolah, tiap sanggar harus menciptakan lagu khas, tarian, dan pertunjukan khas sebagai ciri dan pembeda dengan sekolah lainnya. Dengan demikian, inovasi tidak stagnan dan justru barong anak atau barong pelajar dapat diterima masyarakat luas. Ketiga, perlu adanya festival barong anak dan lomba barong sekolah di tiap daerah. Melalui perlombaan, kesenian ini akan maju secara otomatis dan eksis sepanjang hayat.

Keempat, perlu adanya pola pertunjukan yang berkonversi dari manual menuju digital. Hal itu dapat dilakukan dengan membuat pertunjukan siber yang menampilkan seni barong yang dapat dijangkau di seluruh dunia.

Maju dan mundurnya kesenian barong ada di tangan para guru, baik guru kelas atau guru seni. Kesenian bagi pelajar sangat penting untuk membangun generasi muda yang nasionalis dan berbudaya. Sudah saatnya pendidikan seni dikuatkan dalam rangka memajukan kesenian, utamanya kesenian barong. Jika tidak sekarang, lalu kapan lagi? (*)

 

 

*Hamidulloh Ibda

Ketua Program Studi PGMI STAINU Temanggung,

Pengurus LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah

Penasihat Sanggar Barong Sardulo Krida Mustika

 

Apa Tanggapan Anda ?