Daerah

USBN Berbasis Smartphone di Jatim Jangan Sampai Ada Kebocoran

JAKARTA – Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) tingkat SMA/SMK di Provinsi Jawa Timur (Jatim) yang berbasis pada komputer dan telepon pintar (smartphone) mendapat tanggapan positif dari wakil rakyat. Wakil Ketua Komisi X DPR RI Reni Marlinawati menyatakan hal tersebut bisa menjadi role model bagi daerah lain.

“Kami menyambut positif dengan pemanfaatan smartphone dalam kegiatan USBN BKS (USBN berbasis komputer dan smartphone). Ini bisa menjadi role model bagi daerah lainnya," ungkap Reni dilansir dari dpr.go.id.

Di zaman now ini, menurutnya sudah saatnya sektor pendidikan memanfaatkan kemajuan informasi teknologi untuk kemudahan, kecepatan dan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Namun, penggunaan layanan digital ini harus tetap dipastikan keamanan datanya.

“Jangan ada kebocoran,” singkatnya.

Perempuan berjilbab ini mengingatkan, agar pelaksanaan USBN BKS dilakukan evaluasi untuk melihat kekurangan atau kelemahan dalam penyelenggaran di lapangan.

“Tetap perlu ada evaluasi  yang bertujuan pelaksanaan di waktu-waktu mendatang agar lebih sempurna,” jelasnya.

Pelaksanaan USBN BKS yang diselenggarakan sejak 4 sampai 7 Maret 2019 diharapkan dapat melahirkan mekanisme yang baik dalam penentuan kelulusan SMA, SMK dan Madrasah Aliyah (MA).

Menurut Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa penggunaan teknologi bisa meminimalisir biaya. Selain itu, penggunaan teknologi bisa menghilangkan potensi kebocoran soal-soal.

"Nggak mungkin bocor karena loginnya kan di dalam ruang kelas gitu dan masing-masing anak akan mendapatkan soal yang berbeda, dari sisi itu tidak lagi ada pencetakan soal seperti dulu, dulu kan ketika soal itu dicetak mencetaknya sudah berbiaya tinggi, mengirimnya berbiaya tinggi lagi, potensi kebocorannya juga ada," katanya dilansir dari detik.com.

Khofifah menambahkan, Dinas Pendidikan Jawa Timur  menyiapkan 5.000 jenis soal yang berbeda. Untuk itu, siswa tidak bisa mencontek satu sama lain.

"Saya rasa kita akan bisa menjaga akuntabilitas dari pelaksanaan USBN karena soal yang disiapkan oleh Kadisdik Pemprov itu 5.000 lebih,” akunya.

Meski menggunakan smarphone, Khofifah juga tidak khawatir jika siswa akan memanfaatkan google atau membuka pesan di whatsApp. Pasalnya sistem yang digunakan sudah otomatis mengunci.

"Karena sistem itu sudah dilock ketika dia login soal-soal USBN. Nah tentu harapannya adalah ini akan membangun karakter anak didik kita bahwa memang kejujuran itu menjadi bagian penting yang harus dipertaruhkan pada saat ujian akhir," pungkas Khofifah.

Meski begitu, USBN SMA  di Kota Malang pada hari pertama ujian, Senin (4/3/2019) dihebohkan dengan soal ujian yang bocor lengkap dengan kunci jawaban. Ironisnya, siswa kelas XII peserta ujian patungan ratusan ribu rupiah membeli paket soal dan kunci jawaban USBN.

Sejumlah sekolah langsung sikapi isu yang bikin heboh tersebut. Setelah ujian Pendidikan Agama dan Bahasa Indonesia kemarin, sejumlah sekolah pastikan evaluasi dan perketat pengawasan.

Kepala SMAN 3 Malang, Asri Widiapsari, M.Pd, memaparkan selama pelaksanaan USBN hari pertama tidak mendengar adanya isu kebocoran soal dari siswanya. Pelaksanaan ujian berlangsung normal tanpa ada kendala apapun.

“Apabila memang saat pelaksanaan USBN ada kebocoran nanti diakhir nilainya bisa tampak, tidak masuk akal di sekolah tersebut,” jelas Asri dilasnir dari malangpost.com.

Ia mengatakan, ujian menggunakan komputer sebenarnya membuat peluang kebocoran soal dan kunci jawaban sangat kecil. Apalagi soal ujian dirancang para guru terbaik di Provinsi Jawa Timur. Sehingga tidak mungkin mereka membocorkan, terlebih sekitar 25 persen soal dibuat oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) pusat.

Dimana sekitar 25 soal yang dibuat oleh BNSP tersebut merupakan soal penalaran tingkat tinggi atau yang disebut Higher Order Thinking Skills (HOTS). Sehingga sangat tidak mungkin soal-soal tersebut bocor kepada siswa.

“Besok kita lihat di lapangan seperti apa,” tegasnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?