Guru mengajar di depan kelas. (ilustrasi: prioritaspendidikan.org)

Opini

Selama Ini, Penilaian Terhadap Guru Kurang Pas, Mengapa?


Siedoo, Selama ini penilaian kinerja guru dirasa oleh para guru sendiri, kurang pas. Karena masih didasarkan pada penilaian administrasi saja. Secara faktual, menilai guru yang dilakukan oleh pengawas, kepala sekolah, atau asesor masih sebatas melihat dan memeriksa administrasi kelengkapan guru.

Hal demikian bisa dianggap cacat nalar. Mengapa? Karena ibarat menilai petani hanya dari peralatan, bukan menilai hasil bertaninya, sehingga sia-sialah hasil penilaian itu. Penilaian kelengkapan administrasi guru biasanya terjadi pada guru Sekolah Dasar (SD).

Kelengkapan administrasi guru tidak kurang dari 20 macam. Seperti kurikulum, rencana pelaksanaan pembelajaran, jurnal mengajar, presensi siswa, daftar nilai, buku kunjung siswa, dan sebagainya. Kelengakapan mengajar bagi guru tersebut tidak menjamin guru mampu mengajar dengan baik.

Salah Kaprah

Perangkat pembelajaran tersebut kebanyakan hanya menumpuk di meja. Faktanya, perangkat administrasi guru itu ada karena untuk pemeriksaan atau formalitas untuk menggugurkan kewajiban seorang guru.

Guru yang mampu melengkapi semua perangkat itulah yang  mendapat angka penilaian tinggi karena dia dianggap telah berhasil menyusun puluhan syarat administrasi pembelajaran dengan lengkap. Entah itu data murni atau tidak, yang penting harus punya perangkat itu.

Penilaian guru berdasarkan kelengkapan administrasinya terkadang berdampak negatif bagi guru serta anak didik. Karena guru menjadi sibuk dengan urusan administrasi dan sering melupakan tugas utama mengajar. Maka tidak heran bila menilai guru hanya berdasarkan kelengkapan administrasinya saja dianggap penilaian salah kaprah.

Lebih parahnya, perangkat seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ternyata tidak pernah diterapkan dalam pembelajaran. Guru lebih suka mengajar menurut buku guru atau lembar Kerja Siswa (LKS).

Padahal seharusnya, guru harus kreatif mengubah RPP yang telah disusunnya demi menyesuaikan kondisi siswa saat itu. Guru adalah seniman di dalam kelas yang harus lincah, cekatan, dan spontan mengubah keadaan dari tidak bersemangat menjadi bersemangat.

Baca Juga :  Semangat Ramadhan di Harkitnas untuk Persatuan Indonesia

Sebenarnya penilaian guru lebih pada keberhasilan mengajar dan mentransfer ilmu kepada anak didik baik di depan kelas maupun di luar kelas. Hal itu kemudian diklarifikasikan kepada anak didiknya. Jadi bukan urusan administrasi guru yang menjadi tolok ukur penilaian.

Jika siswa mampu menyerap ilmu dari gurunya, guru itu berhasil mengajar. Dia pantas dapat penghargaan tinggi, demikian pula sebaliknya.

Siswa adalah sasaran pembelajaran, sedangkan guru adalah sumber belajar agar siswa memahami dasar kompetensi yang tertulis di buku pedoman pembelajaran. Sebagai hasil akhirnya adalah siswa mampu memahami, menirukan, dan mengembangkan kompetensi yang tengah dipelajari dengan senang hati.

Penilaian berbasis siswa

Justru penilaian guru dengan instrumen klarifikasi kepada siswa dirasa lebih tepat. Karena pengawas pendidikan akan memperoleh informasi akurat apakah guru yang dinilai tersebut telah menjalankan tugas sesuai dengan tugas pokok dan fungsi atau belum.

Dari sinilah kemudian pengawas bisa mengetahui apakah tugas guru untuk mengajar di kelas sudah dijalani atau belum. Siswa lebih jujur menjawab dan sangat kecil kemungkinan memanipulasi data.

Dengan menilai guru berbasis pengalaman siswa, guru lebih berhati-hati menjalankan tugas. Guru baik dan profesional pasti menghasilkan murid-murid yang cerdas, kreatif, dan terampil mengembangkan kompetensinya. Sebaliknya, bila guru tidak baik, pasti cara mengajar juga tidak baik.

Jadi bisa diibaratkan kita menilai seorang petani, kita jangan menilai alat-alat pertaniannya (administrasinya), tapi seharusnya menilai hasil pertaniannya (esensinya).

Belum tentu dengan alat-alat canggih hasil panen pasti melimpah. Sama halnya menilai kinerja seorang guru. Jangan menilai administrasi atau perangkat pembelajarannya saja, tetapi tanyakan kepada murid-muridnya.

Coba ajukan beberapa pertanyaan kepada siswa. Seperti: Keterampilan apa yang kamu kuasai dari pelajaran gurumu? Atau, Coba peragakan saat kamu bertanya kepada temanmu tentang kesehatan temanmu itu! Atau mungkin siswa diminta praktik berhitung sesuai kelasnya.

Baca Juga :  Upaya Penyelesaian Pelecehan Seksual di Dunia Pendidikan

Kalau siswa (hasil kerja guru) mampu mempraktikkan atau mengerjakan atau menjawab dengan tepat, berarti guru layak mendapat nilai bagus dari pengawas, kepala sekolah atau asesor.

Dari uraian di atas, layak pemerintah mengkaji ulang sistem penilaian kinerja guru. Tidak berdasarkan kelengkapan administrasinya saja, namun perlu klarifikasi kepada siswa. Sehingga siswa merupakan penilai kinerja guru pula. (*)

 

Narwan, S.Pd

Guru SD Negeri Jogomulyo, Tempuran,

Magelang, Jawa Tengah

Apa Tanggapan Anda ?
SD Mutual Kota Magelang