Inovasi Tokoh

Prof Khairurrijal Berbagi Pengalaman Ketika Studi di Jepang

Siedoo, Prof. Dr. Eng. Khairurrijal M.Si, seorang Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB) memberikan pesan mendalam. Pesan itu disampaikan untuk civitas akademika di perguruan tinggi setempat.

“Keterbatasan itu tidak ada, yang ada hanya kendala, dan kendala itu pasti bisa diatasi,” pesannya.

Pesan tersebut merupakan pembelajaran penting yang telah didapatkannya selama 28 tahun mengajar dan meneliti di ITB.

Prof. Khairurrijal adalah guru besar pada Kelompok Keahlian Fisika Material Elektronik. Saat ini dirinya menjabat pula sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITB.

Jiwa inovatif sepertinya sudah melekat pada dirinya sejak masih muda. Sekitar tahun 1988 ketika Khairurrijal muda masih menjadi mahasiswa, ia sudah memberanikan diri memodifikasi oven microwave untuk menggantikan alat penelitian yang tidak dimiliki. Alat penelitian ini digunakan untuk menghasilkan material semikonduktor lapisan tipis.

Saat studi S3 di Universitas Hiroshima Jepang tahun 1995-1998 dan sebagai peneliti tahun 1998-2001, ia melakukan penelitian terkait performansi transistor Mosfet. Sambil melakukan pekerjaan di lab basah, ia juga bekerja di lab kering atau simulasi dengan komputer.

Ketiadaan superkomputer di Indonesia nantinya untuk menyelesaikan iterasi yang sangat kompleks tersebut menjadi kendala yang harus dihadapi Prof. Khairurrijal. Meskipun sempat ditawari untuk menggunakan superkomputer di Jepang, ia tetap optimis.

“Saya akan coba melakukan dengan komputer PC biasa dan saya akan kembangkan source code saya sendiri,” semangatnya.

Alat yang berasal dari modifikasi oven microwave untuk menghasilkan material semikonduktor lapisan tipis (1988). (foto: ist)

Kreatifitas yang sama juga memotivasi Prof. Khairurrijal untuk membuat alat yang serupa dengan IV Meter. Kala itu ada cukup banyak alumni yang akan melakukan penelitian tetapi tak tersedia alat IV Meter yang digunakan untuk mengukur arus yang sangat kecil hingga ratusan picoampere.

“Dana penelitian yang tersedia hanya sekitar Rp 30 juta. Sedangkan alatnya harganya dari Rp 300 juta sampai 5 miliar,” tutur Prof. Khairurrijal.

Meski sempat memiliki keraguan, pada akhirnya produk IV Meter buatan ITB tersebut berhasil diwujudkan dengan harga terjangkau dan diterbitkan dalam paper di jurnal internasional bereputasi.

Proyek penelitian terbaru yang dikembangkan Prof. Khairurrijal adalah rekayasa alat untuk membuat nanoserat menggunakan metode eletrospinning. Penelitiannya ini merupakan hasil kerjasama dengan Dr. Eng. Muhammad Miftahul Munir yang juga dosen di Fisika ITB.

Dengan alat ini beberapa aplikasi sedang dikembangkan, seperti enkapsulasi bahan aktif berupa obat dan ekstrak. Ekstrak kulit manggis di dalam nanoserat polimer digunakan sebagai bahan pangan fungsional untuk keperluan untuk kebutuhan gaya hidup modern. Aplikasi lain adalah nanoserat untuk filter udara maupun filter air.

Dalam melakukan berbagai proyek penelitian, Prof. Khairurrijal selalu melibatkan mahasiswanya.

“Saya selalu melibatkan mahasiswa. Selain mereka punya pengalaman, itu sangat berbekas bagi mereka,” ujarnya.

Adapun beberapa alat bantu pembelajaran fisika di FMIPA ITB juga dibuatnya bersama mahasiwa. Beberapa contoh alat-alat tersebut yaitu single board computer, alat bantu pembelajaran kontrol otomatik dan spektroskopi.

Sesuai dengan visi ITB yang bergerak dari research university menjadi entrepreneurial university, sumber daya insani yang berkualitas dan berkomitmen dalam pengabdian merupakan modal utama ketercapaian indikator excellent in teaching, excellent in research, dan excellent in innovation & entrepreneurship. Untuk itu, semua patut mencontoh semangat Prof. Khairurrijal dalam melakukan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. (*)

Apa Tanggapan Anda ?