Mahasiswa UGM yang menjalani KKN berdialog dengan korban tsunami Selat Sunda. foto: humas UGM

Daerah

Mahasiswa UGM Berdayakan Korban Tsunami Selat Sunda


PANDEGLANG – Salah satu wilayah terdampak tsunami Selat Sunda adalah Kecamatan Carita Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten. Sebulan setelah bencana tersebut, di kecamatan ini memperoleh banyak bantuan pokok layaknya sandang pangan. Namun, warga masih kesulitan dalam melakukan kegiatan ekonomi karena lesunya sektor pariwisata pascabencana .

Menghadapi problematika tersebut, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta melalui Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat (DPKM) menerjunkan tim KKN khusus bertajuk Peduli Bencana. Mereka akan fokus memberdayakan masyarakat setelah peristiwa tumpahnya air laut kedaratan tersebut.

Bertujuan untuk fokus pada pemberdayaan masyarakat pasca bencana. KKN yang dijalankan mulai Rabu (30/1/2019) hingga Senin (25/2/2019) adalah panggilan alam bagi mahasiswa untuk mengabdi.

“KKN UGM secara historis telah tersebar di seluruh Indonesia. Di daerah bencana seperti Lombok dan Palu, kita telah hadir. Tsunami Selat Sunda adalah panggilan alam bagi UGM untuk mengabdi, dengan Carita menjadi salah satu lokasi unit,” tutur Direktur DPKM Prof Irvan.

Secara teknis, Muhammad Andika selaku Koordinator menyebutkan KKN ini memiliki tema perwujudan kampung tangguh bencana. Mereka akan memproyeksikan terwujudnya ketangguhan holistik. Dengan cara, mengkombinasikan beberapa aspek kehidupan dan keilmuan yang dimiliki masyarakat bersama UGM.

“Untuk membantu sosial masyarakat, akan dilakukan trauma healing seperti mengajak mewarnai, pelayanan kesehatan dan pendidikan, hingga pembangunan fasilitas tertentu. Dalam bidang ekonomi, kita identifikasi potensi alam dan sosial yang bisa menghasilkan nilai tambah,” ungkap Andika.

Terkait mitigasi bencana, tim UGM melakukan plotting penanda zona dan infrastuktur di Google Maps dan sistem informasi geografi. Sembari berkoordinasi dan melakukan perencanaan bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Pandeglang.

Dengan integrasi dan kekayaan data yang akan dihasilkan, diharapkan dapat  terwujud penegasan atas peta bencana berbasis SiG di daerah tersebut.

Baca Juga :  Berharap Inovasi Sarana Belajar Untuk Disabilitas

Senada dengan hal tersebut, Jaenal selaku Lurah Sukarame Carita mengungkapkan, pemerintah sejatinya telah memiliki panduan teknis. Layaknya rute evakuasi dan zonasi daerah-daerah yang dikategorikan aman ataupun rentan.

Akan tetapi, peta tersebut masih berupa dokumen atau plang sehingga belum banyak diketahui warga. Penegasan yang dapat dilakukan tim KKN UGM melalui pendekatan kepada warga, diharapkan bisa membumikan menara gading informasi tersebut.

“Belum banyak yang tahu (panduan teknis mitigasi bencana). Belum ada sosialisasi. Selama ini kalau tsunami, lari saja ke bukit. Padahal Carita ini di pesisir dan hanya berjarak 50 kilometer dari Anak Krakatau,” tutur Jaenal.

Melalui program-program KKN, Dosen Pembimbing Lapangan, Eman Suherman berharap pengabdian para mahasiswa bisa bermanfaat untuk warga. Dengan cara mendengar sekaligus merangkul warga untuk berpartisipasi dalam proses pemberdayaan.

“Semua program dirumuskan melalui proses observasi. Datang dan dengarkan apa yang dibutuhkan warga. Para mahasiswa bertugas memberi pemahaman, kita disini saling membantu,” ujar Eman. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?
Ucapan Pemkot