Suasana dalam ajang World University Debating Championship (WUDC) 2018 di Cape Town, Afrika Selatan. (foto: itb.ac.id)

Tokoh

Mahasiswa ITB Ikuti Debat Internasional di Afrika Selatan

SMP Mutual Kota Magelang

Siedoo, Dua mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), Jawa Barat, Ahmad Kushay (Kimia, 2015) dan Vincentius Michael (Matematika, 2016) mengharumkan nama Indonesia. Keduanya berhasil meraih gelar Grand Finalist dalam ajang World University Debating Championship (WUDC) 2018 di Cape Town, Afrika Selatan.

Ajang WUDC merupakan kompetisi debat parlementer tingkat dunia yang diselenggarakan setiap tahun sejak 1980 oleh World Universities Debating Union. Tahun ini, kompetisi bergengsi ini diikuti 276 tim dari berbagai negara dunia dan dilaksanakan di Afrika Selatan.

Pada kategori English as Foreign Language (EFL) yang merupakan satu dari tiga kategori yang dilombakan, tim Indonesia melaju dengan mulus. Tim Indonesia berhasil mulai tahap penyisihan, semifinal, hingga final mulai 27 Desember 2018 hingga 4 Januari 2019.

Sebelum mewakili Indonesia, Ahmad Kushay dan Vincentius Michael terlebih dahulu mengikuti serangkaian kompetisi tingkat nasional ‘National University Debating Championship (NUDC)’ pada 15-21 Agustus 2018. Pada tingkat nasional mereka menyabet juara 2 dari 112 tim yang bertanding.

Sebagai bentuk apresiasi, Kemenristekdikti memberangkatkan mereka sebagai perwakilan Indonesia untuk tingkat internasional. Motivasi Kushay mengikuti ajang tersebut karena kesukaannya terhadap diskusi intelektual tentang isu sosial.

“Saya secara pribadi tertarik kedalam debat parlementer karena ingin mengabdi ke kampus dengan cara mengharumkan nama ITB di ranah nasional dan internasional,” ungkap Kushay, seperti ditulis di itb.ac.id. 

Format debat British Parliamentary berbeda dengan biasanya. Di mana empat tim yang masing-masing terdiri atas dua orang mendebatkan suatu mosi, membuat mereka harus memiliki pengetahuan luas serta kerjasama yang baik.

“Untuk menghadapi kompetisi ini, kami melakukan sejumlah persiapan. Dalam menggodok wawasan topik, kami membaca berbagai artikel dari majalah dan media seperti The Economist, The Atlantic, Aeon, New York Times, dan lainnya,” ungkap Kushay.

Tak hanya itu, keduanya juga melakukan latihan-latihan jenis lain seperti latihan kemampuan berbicara, komunikasi, dan kerjasama. Adanya dua tim yang menjadi proposisi serta dua tim yang menjadi oposisi saat debat.

Mereka mengaku memiliki kesulitan tersendiri dalam membuktikan bahwa argument mereka adalah yang terbaik. Walaupun demikian, lawan yang dinilai berat oleh tim ini dapat mereka taklukkan hingga akhirnya masuk ke dalam babak final bersama tiga tim lainnya.

Walaupun belum meraih gelar Champion, Kushay mengungkapkan bahwa kompetisi ini merupakan pengalaman yang sangat berharga dan bisa berguna di masa depan. (*)

Apa Tanggapan Anda ?