Presiden Joko Widodo meninjau dampak bencana di Lampung. foto: setkab.go.id.

Nasional

Pendidikan Kebencanaan Akan Diajarkan ke Siswa dan Masyarakat

SMP Mutual Kota Magelang

LAMPUNG – Indonesia memang sepertinya darurat bencana. Sampai-sampai pemerintah akan memasukkan kurikulum terkait kebencanaan untuk masuk ke dalam pendidikan siswa dan masyarakat. Hal ini dilakukan guna meningkatkan kesadaran dan bimbingan terkait dengan penanggulangan bencana sedari dini.

“Pendidikan mengenai kebencanaan akan dimulai di bulan Januari ini baik di tingkat sekolah maupun di tingkat masyarakat,” kata Presiden Jokowi, saat meninjau Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan yang merupakan salah satu wilayah terdampak bencana tsunami sebagaimana ditulis setkab.go.id.

Pendidikan tersebut tidak diberlakukan di semua sekolah dan lapisan masyarakat. Tetapi akan diberikan untuk di daerah-daerah yang kemungkinan adanya bencana itu besar, baik tanah longsor, gempa, atau tsunami.

Di Lampung Selatan tercatat 118 orang meninggal, 490 rumah mengalami kerusakan. Banyaknya korban jiwa tersebut disinyalir karena rumah-rumah warga yang sebagian besar berada tepat di bibir pantai.

Presiden menginstruksikan jajaran terkait untuk melakukan penanganan cepat bagi para korban bencana tsunami di Selat Sunda di Lampung Selatan. Setelahnya, pemerintah akan segera melakukan pembangunan kembali rumah warga yang rusak akibat bencana tersebut.

“Tadi rakyat meminta agar segera rumahnya dibangun. Kita akan masuk ke situ, ke tahap rekonstruksi dan pembangunan. Tidak ada hunian sementara. Jadi langsung akan dibangun rumah,” ujarnya.

Presiden mengatakan pemerintah akan sekaligus melakukan relokasi terhadap wilayah hunian milik warga yang akan segera dibangun itu. Lahan seluas 2 hektare berjarak kurang lebih 400 meter dari lokasi semula, telah disiapkan sebagai lokasi hunian baru yang relatif lebih aman dari bencana serupa.

Penataan tata ruang terutama bagi wilayah-wilayah yang berada di sekitar garis pantai, menurutnya, sudah mendesak untuk dilakukan. Ia menyebutkan, untuk mengurangi risiko jatuhnya korban jiwa akibat bencana, salah satunya dapat dilakukan dengan penataan tata ruang itu.

“Kita tidak hanya berbicara sekarang, tidak hanya berbicara 5 tahun ke depan, tidak hanya berbicara 10 tahun ke depan. Tapi berbicara 20, 30, atau 50 tahun ke depan,” tuturnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?