Gubernur Jatim Soekarwo saat meninjau stand. foto: provjatim.go.id

Daerah Inovasi

Wow, Jatim Punya SMK Mini Mampu Turunkan Angka Pengangguran

SMP Mutual Kota Magelang

JATIM – Provinsi Jawa Timur (Jatim) menjalankan Program SMK Mini. Program ini merupakan pendidikan vokasi. Harapannya untuk menekan angka pengangguran. Program tersebut memberikan perhatian kepada SMK di lingkungan pondok pesantren, daerah potensial dan terpencil sejak 2014-2015.

Gubernur Jawa Timur, H Soekarwo mengatakan, SMK Mini berfungsi sebagai lembaga BLK nonformal, yang mengadakan pelatihan untuk membuat produk yang terus menerus dikembangkan dan dipasarkan.

“Tujuannya, membiasakan menjual produk yang dihasilkan dari program SMK Mini. Sehingga menghasilkan lulusan berjiwa entrepreneur,” katanya dilansir provjatim.go.id.

Dinyatakan, SMK Mini merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Tidak ada gunanya Revolusi Industri 4.0 jika SDM yang dimiliki belum siap, utamanya pada kualitas keterampilannya.

Peningkatan kualitas SDM, harus seiring dengan proses perkembangan ilmu pengetahuan yang ditunjang dengan keterampilan. Upaya itu untuk menghasilkan nilai tambah dari kualitas produk SMK Mini.

Kualitas produk yang baik, diyakini akan menjadi rebutan di pasar dalam negeri maupun luar negeri. Jika produk yang dihasilkan kompetitif dan bisa diterima oleh pasar, ia optimistis akan banyak yang menginginkan produk dari SMK Mini.

“Kita tidak boleh memaksakan produk kita layak jual di supermarket. Namun, produk yang memiliki kualitas, rasa dan packaging itulah yang bisa diterima oleh pasar. Maka, kerjasama pendampingan dari perusahaan kepada SMK Mini ini harus terus didorong dengan kualitas standarisasi nasional maupun international,” ujarnya.

Kerjasama dengan pihak ketiga, lanjut Pakde Karwo, panggilan akrabnya, harus diimbangi dengan standarisasi dan pemasaran produk. Tak hanya itu, agar produk dari SMK Mini bisa semakin dikenal luas, harus bersinergi dengan perusahaan yang sudah eksis, sehingga usaha tersebut mampu meningkatkan nilai produktif bagi masyarakat serta industri.

“Saya kira SMK Mini ini, menjadi solusi untuk meningkatkan kualitas SDM kita,” ungkapnya.

Sementara itu, terkait kerjasama SMK Mini dengan Alfamart, ia menyambut baik usaha tersebut. Ke depan, dirinya minta kepada kepala SMK untuk lebih memprioritaskan produk yang bahan bakunya tidak impor, namun dari daerah asal atau desa setempat. Termasuk untuk barang yang produktif.

Pakde Karwo berharap agar barang-barang tersebut bisa diolah menjadi produk setengah jadi, sehingga menghasilkan nilai tambah bagi industri primer dan sekunder. Sedangkan, SMK Mini dapat berperan sebagai pemasaran dan pencipta produk.

“Jadi jangan jual buah nangka tapi keripik nangka dengan kualitas maupun packaging yang menarik sehingga menghasilkan nilai tambah yang besar. SMK Mini bisa harus mampu menjadi pemasar produk tersebut,” tegasnya.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jatim, Saiful Rachman mengatakan, SMK Mini di Jatim merupakan program satu satunya di Indonesia. Keberadaan SMK Mini tersebut, dilakukan untuk memutus mata rantai pengangguran yang ada di Jatim.

Hingga tahun 2018, jumlah SMK Mini yang masih eksis berjumlah 240 SMK Mini, bisa menghasilkan produk unggulan maupun produk SDM yang handal untuk berwirausaha.

“Keberadaan SMK Mini ini adalah untuk memutus mata rantai pengangguran di Jatim. Sehingga menghasilkan produk unggulan yang andal,” ungkapnya.

Disamping itu, kepala SMK Mini di Jatim telah mendapatkan bimbingan serta pelatihan soal kerjasama dengan Badan Standarisasi Nasional (BSN). (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?