Sampul Hari Pertama (SHP) diterbitkan oleh PT Pos Indonesia 26 Agustus 1983. SHP rancangan Subagyanto ini diterbitkan untuk memperingati 100 tahun meletusnya gunung Krakatau yang maha dahsyat pada tahun 1883. (Foto: windustampcollection.blogspot.com)

Nasional

Literasi Tentang Krakatau Karya Le Sueur yang Terlupakan

DPRD Kota Magelang

Siedoo, Gunung Krakatau yang berada di selat Sunda meletus pada tanggal 26 Agustus 1883. Letusannya yang begitu dahsyat melahirkan gunung Anak Krakatau. Dalam Majalah Intisari edisi Agustus 1983, letusan gunung Krakatau disebut 21.574 kali lebih kuat dibandingkan bom atom.

Bahkan letusannya itu menghancurkan 60 persen tubuh gunung Krakatau di bagian tengah dan terbentuklah lubang kaldera. Dentumannya terdengar hingga radius 4.600 kilometer dari pusat ledakan di selat Sunda.

Tak hanya letusannya yang dahsyat, meletusnya gunung Krakatau menimbulkan tsunami setinggi 40 meter. Hempasan tsunami melibas pesisir pantai barat Banten, dari Merak, Anyer, Labuan, Panimbang, Ujung Kulon, hingga Cimalaya, di Karawang, Jawa Barat.

Seorang controleur yang ditempatkan di Beneawang, Teluk Semangka, Lampung menyaksikan tanda-tanda meletusnya gunung Krakatau yang berlangsung selama beberapa hari. Controleur itu bernama PLC Le Sueur yang merupakan pejabat Belanda. Le Sueur menuliskan kesaksian meletusnya gunung Krakatau dalam sebuah surat tertanggal 31 Agustus 1883 yang dikirimkan ke atasannya.

Awalnya Le Sueur mendengar suara dentuman yang begitu keras. Ia mengira dentuman tersebut berasal dari meriam kapal, tak ada sedikitpun prasangka dentuman itu berasal dari gunung Krakatau.

“Pada hari Minggu sore, menjelang pukul empat, sewaktu saya sedang membaca di serambi belakang rumah saya. Tiba-tiba saja terdengar beberapa dentuman yang menyerupai letusan meriam,” tulisnya dalam surat.

Air laut pasang

Tak lama setelah kejadian tersebut, air laut mulai naik dan beberapa kampung di pantai sudah tergenang. Masyarakat terlihat panik, Le Sueur mencoba menenangkan mereka. Mereka mulai memanggil-manggil nama Allah.

“Saya menyuruh membawa wanita dan anak-anak ke tempat-tempat yang letaknya lebih tinggi. Air surut lagi dengan cepat, tetapi mulai hujan abu,” tulisnya.

Lalu, sekitar pukul 04.00 pagi, Le Sueur dibangunkan oleh warga kampung yang memberitahu bahwa di kaki langit terlihat cahaya kemerah-merahan. Pemandangan yang tak biasa terjadi itu membuat Le Sueur khawatir. Ia memutuskan untuk memeriksa ke bibir pantai sekitar pukul 06.00 pagi pada hari Senin (27/8/1883).

Ada hal yang ganjil, yakni permukaan air laut jauh lebih rendah dari biasanya. Batu karang yang biasanya tak tampak kini menjadi kering. Kemudian Le Sueur mendengar guruh sambung-menyambung sehingga ia khawatir akan ada bencana yang lebih mengerikan akan datang.

Setelah sampai di rumah, Le Sueur memanggil Van Zuylen, pembantunya, untuk menulis rancangan surat kepada residen tentang apa yang terjadi. Saat itu, jam menunjukkan pukul 7 pagi namun langit masih sangat gelap, tak seperti biasanya lampu-lampu rumah dibiarkan menyala.

Tak lama warga kampung kembali ribut-ribut. Laki-laki, perempuan, dan anak-anak berhamburan sambil berteriak, “Banjir! Banjir!” Le Sueur mengajak orang yang berhamburan itu agar berlindung di rumahnya sebab rumahnya terletak di tempat agak tinggi dan dibangun di atas tiang.

Kekuatan pasang berlipat

Tak butuh waktu lama, air pasang kembali ke laut, warga menjadi tenang kembali. Namun, ketenangan tersebut tak berlangsung lama, air laut kembali datang dengan kekuatan yang lebih dahsyat.

Debur, gemuruh, terdengar begitu menakutkan. Ada sekitar 300 orang di dalam rumah Le Sueur. Tiba-tiba saja serambi depan rumah Le Sueur runtuh dan air segera masuk.

Ia menyerankan agar pindah ke serambi belakang. Baru saja ia mengucapkan itu, tiba-tiba seluruh rumah roboh berantakan dan mereka semuanya terseret arus air.

Kesadaran Le Sueur datang dan pergi, ia tidak ingat apa yang terjadi. Kemudian, ia berhasil meraih papan dan membiarkan badannya mengapung mengikuti aliran air, namun kakinya tersangkut sehingga pegangannya ke papan lepas.

Tak menyerah begitu saja, Le Sueur berhasil menggapai beberapa keping atap. Air kemudian kembali ke laut dan kaki Le Sueur akhirnya merasakan daratan. Hujan lumpur turun dari langit. Terdengar dari kejauhan suara minta tolong namun Le Sueur tidak mempunyai kekuatan untuk menolong. Bahkan ia tak bisa berdiri saking lemasnya.

Pikirannya dipenuhi ketakutan dan kalut. Apalagi ia tak bisa melihat apa-apa sebab langit begitu gelap bagaikan malam, padahal hari masih siang.

Tak lama, air datang lagi dengan kekuatan yang sama kuatnya dari pertama. Sebelum badannya terhantam tsunami, Le Sueur berdoa agar memohon keselamatannya dan warga kampung.

Ia pasrah untuk menghadapi maut. Le Sueur dihanyutkan air, diputar, lalu dihempaskan dengan kekuatan dahsyat. Tubuhnya terjepit antara dua rumah yang mengapung, ia pasrah menghadapi maut karena tak bisa bernapas. Ketika berpikir ajalnya akan menjemput, tiba-tiba saja kedua rumah tersebut terpisah.

Hujan lumpur tidak berhenti

Le Sueur menemukan batang pisang yang dijadikan pelampungnya. Ia mengapung dalam waktu yang lama. Le Sueur tak bisa memperkirakan berapa jam ia mengapung.

Akhirnya air surut, Le Sueur tak bisa bergerak, ia hanya terduduk dalam waktu kira-kira satu jam. Langit masih gelap, hujan lumpur tak kunjung berhenti.

Le Sueur mendengar suara manusia di sekitarnya, ia memanggil dan mulai bangkit. Sambil berjalan terseok-seok, Le Sueur meraba-raba jalan.

Pakaian yang melekat di tubuhnya hanya tersisa kain flanel, sisanya hanya kain yang tercabik-cabik. Le Sueur akhirnya diselamatkan seseorang yang membawa obor. Ketika itu diperikirakan pukul 9 pagi, tetapi masih tetap gelap gulita.

Le Sueur dibawa ke Kampung Kasugihan melewati hutan semak berduri dan mengarungi lumpur. Setelah itu ia meneruskan perjalanan ke Penanggungan. Setibanya di sana, waktu sudah pukul 8 malam.

Baru beristirahat satu jam, Le Sueur mendengar gemuruh air, tempat mereka berada belum aman. Mereka menyelamatkan diri lagi ke arah pegunungan.

Setelah dua jam berjalan, mereka mencapai Desa Payung yang terletak di lereng Gunung Tanggamus. Di sana Le Sueur diberi sarung, disambut dengan ramah, dan disuguhi makanan.

Terlupakan peneliti

Keesokan harinya, Le Sueur menyuruh untuk melihat apa masih ada warga kampung tempatnya berasal yang masih hidup. Namun, hampir seluruh Baneawangan luluh lantak. Banyak warga kampung lenyap.

Itulah kisah seorang controleur Belanda bernama PLC Le Sueur. Kisah nyata itu ia tuliskan dalam sebuah surat kepada atasannya. Sebuah kesaksian dari dahsyatnya letusan gunung Krakatau dan bencana yang diakibatkan peristiwa itu.

Kisah ini jarang disebut oleh para peneliti, sebagaimana kesaksian langsung dari penduduk pribumi. Kesaksian dalam syair Lampung Karam. Atau kisah saksi mata dari Nenek Maemunah, warga Cimanuk, Pandeglang, Banten.

Dia tercatat di Dispendukcapil Kabupaten Pandeglang sebagai warga kelahiran 6 Mei 1867. Saat meletusnya Krakatau Maemunah berusia 13-an tahun. Maemunah meninggal pada 9 Mei 2012, tiga hari setelah berulang tahun ke-145. (*)

Apa Tanggapan Anda ?
Dirgahayu RI Kota Magelang