Anak-anak bersama warga suku Tengger di Dusun Ketuwon, Desa Ngadiwono, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, menyambut gembira penyerahan gedung sekolah baru dari Yayasan Arek Lintang (ALIT), Senin (17/12/2018). (Foto: voaindonesia.com)

Daerah

Anak Tengger Rajut Harapan Baru, melalui Sekolah Alam


PASURUAN – Ada harapan baru bagi puluhan anak suku Tengger, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur, karena telah dibangun dan diresmikan Sekolah Alam Anak Tengger (SAAT). Sekolah ini dibangun untuk melayani pendidikan puluhan anak suku Tengger yang kesulitan mengikuti pelajaran dan yang putus sekolah.

Hal itu karena jarak sekolah cukup jauh dan sulit dijangkau dari dusun mereka yang terpencil. SAAT, memberikan harapan baru bagi masa depan anak-anak suku Tengger di kawasan Pegunungan Bromo dan Tengger tersebut.

Kesenian tradisional suku Tengger mengiringi peresmian dan penyerahan Sekolah Alam Anak Tengger di Dusun Ketuwon, Desa Ngadiwono, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Sejumlah anak perempuan berpakaian kebaya khas Tengger serta anak laki-laki berbeskap hitam dengan lilitan ikat kepala atau udeng, memenuhi jalan di samping sekolah.

Anak-anak suku Tengger membunyikan gamelan slompretan mengiringi peresmian dan penyerahan Sekolah Alam Anak Tengger. (Foto: voaindonesia.com)

Sekolah Alam Anak Tengger itu dibangun oleh Yayasan Arek Lintang (ALIT) bersama sejumlah donatur. Sekolah ini mampu menampung anak-anak dari Desa Ngadiwono, juga dari Desa Banyumeneng yang jaraknya sekitar 4 kilometer. Di mana anak-anak harus melintasi hutan dan sungai.

Kepala Desa Ngadiwono, Atim Priyono mengatakan, kondisi akses jalan yang berbatu dengan letak desa yang cukup terpencil, membuat anak-anak sering tidak masuk sekolah. Keberadaan gedung sekolah yang baru didirikan ini dirasakan sangat membantu orang tua yang memiliki anak-anak usia sekolah agar tidak tertinggal pendidikannya dari anak-anak di dusun dan desa lain.

Menurut salah satu warga Dusun Ketuwon, Ahmad Nur Hidayat, sekitar 40 anak di Dusun Ketuwon harus belajar bersama di balai dusun. Ketika balai dusun direnovasi, anak-anak belajar maupun melakukan aktivitas seni dan budaya di sanggar Pura Kamandalu, di dusun mereka.

“Seni budaya berupa menari dan slompretan. Kalau untuk literasi di bawah, di balai dusun itu ada taman baca,” jelasnya.

Baca Juga :  Ketika Siswa Sekolah Jepang Bermain Lompat Tali

Rasa keadilan pendidikan

Dilansir voaindonesia.com, suku Tengger merupakan suku asli yangg tinggal di lereng pegunungan Tengger, di kawasan Pegunungan Bromo, Tengger, Semeru. Jumlah mereka semakin terdesak oleh modernisasi dan pariwisata.

Suku Tengger awalnya banyak yang beragama Hindu, kemudian sebagian diantaranya telah memeluk agama Islam. Anak-anak suku Tengger di pedalaman kesulitan mendapatkan pendidikan. Kebudayaan dan adat kebiasaan masyarakat Tengger juga semakin tergerus oleh zaman.

Hadirnya Sekolah Alam Anak Tengger ini ingin memberikan rasa Keadilan Sosial bagi anak suku Tengger, seperti anak-anak pada umumnya. Melalui sekolah atau pendidikan, diharapkan anak-anak suku Tengger tidak tertinggal dari anak-anak lainnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?
Ucapan Pemkot