Dr. Harry Widianto saat menyampaikan orasi ilmiahnya. foto: kemdikbud.go.id

Tokoh

Dr. Harry Widianto Menjadi Profesor Riset Bidang Pendidikan dan Kebudayaan ke-8

DPRD Kota Magelang

Siedoo, Jumlah Profesor Riset Bidang Pendidikan dan Kebudayaan menjadi 8 orang. Terakhir yang dikukuhkan adalah Dr. Harry Widianto. Pengukuhan dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Dalam acara pengukuhan tersebut Dr. Harry Widianto, menyampaikan orasi berjudul “Migrasi dan Proses Hunian Manusia di Kepulauan Nusantara pada Kala Plestoses - Holosen”.

Harry menyampaikan ragam historis yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia saat ini, terjadi karena akumulasi proses migrasi yang menyebabkan percampuran genetik sebagai cikal bakal manusia yang ada di Indonesia.

Migrasi dan percampuran tersebut, lanjutnya, terjadi oleh karena beberapa hal. Di antaranya fluktuasi permukaan air laut yang membentuk jembatan darat antarpulau yang memberikan dampak pada pertemuan berbagai populasi dan diaspora manusia ke segala penjuru arah.

"Yang akhirnya memberikan pengaruh pada perubahan ekologis muka bumi termasuk genetik dan budaya populasi di atasnya," tandasnya dilansir dari kemdikbud.go.id.

Ditegaskan, segala jejak-jejak historis bangsa Indonesia yang terbentuk di Kepulauan Nusantara dan merupakan bentukan dari hasil percampuran genetika tersebut melahirkan akulturasi budaya yang berlangsung cukup rumit dalam rentang waktu yang tidak sebentar.

Dinyatakan, kisah rasiologi yang ada dalam jejak sejarah tersebut menjadi penting untuk dipahami sebagai upaya membantu menjelaskan proses migrasi, evolusi serta percampuran genetika yang menyebabkan multikulturalitas bangsa Indonesia.

"Dan upaya pengelolaan serta pelestarian keragaman budaya Indonesa tersebut," tegasnya.

Hadir dalam acara pengukuhan tersebut, Wakil Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof. Dr. Ir. Bambang Subiyanto, M.Agr., selaku Ketua Majelis Pengukuhan Profesor Riset, Prof. Dr. Agus Aris Munandar, Sekretaris Majelis, Prof. Dr. Erwiza, dan Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak selaku anggota majelis dan penilai naskah orasi.

Acara ini juga dihadiri oleh tiga orang Profesor Riset Kemendikbud, yaitu Prof. Bambang Sulistyanto, Prof. Naniek Harkantiningsih dan Prof. Dr. Iskandar Agung.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud, Totok Suprayitno mengatakan, orasi yang disampaikan Profesor Riset kedelapan dari 756 jumlah keseluruhan peneliti Kemendikbud tersebut, menunjukkan bahwa proses akulturasi yang terjadi telah melalui tahapan yang teramat panjang dan tidak terbentuk secara tiba-tiba.

"Hal tersebut merupakan modal berharga bagi bangsa Indonesia untuk memperkuat persatuan, kesatuan dan perasaan saling memiliki di antara bangsa Indonesia,” tuturnya.

Totok menambahkan, dengan ragam penemuan dan geliat penelitian arkeologi di berbagai daerah di Indonesia, dapat menstimulus perkembangan penelitian arkeologi di Indonesia. Dengan semangat tersebut dapat menghasilkan lebih luas lagi dalam menjawab tantangan dunia arkeologi di masa mendatang.

"Khususnya pada bidang Arkeologi Prasejarah," cetusnya. (*)

Apa Tanggapan Anda ?
Dirgahayu RI Kota Magelang