Warga Desa Nglampar Nglegi, Patuk Gunungkidul, Yogyakarta mengolah singkong bersama mahasiswa UNY menjadi kroket.

Daerah

Kroket Singkong ala Mahasiswa UNY


YOGYAKARTA – Di Desa Nglampar Nglegi, Patuk Gunungkidul, Yogyakarta memiliki sumber daya alam yang cukup melimpah. Di desa ini banyak bahan yang melimpah seperti singkong dan coklat. Singkong dipilih lalu diolah mahasiswa karena hampir setiap penduduk memiliki pohon singkong, sehingga warga tidak perlu membeli.

Dengan jumlah singkong yang berlebih ini, maka mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengubah singkong menjadi kudapan kekinian yakni kroket. Para mahasiswa mengajarkan pembuatan kroket singkong kepada warga di desa itu.

“Singkong dipilih karena setiap penduduk memiliki pohon singkong. Sehingga, warga tidak perlu membeli,” kata mahasiswa prodi PKNH Fakultas Ilmu Sosial UNY Wanda Kusumaning Warnadi.

Singkong atau ketela merupakan hasil bumi yang familier di masyarakat. Tanaman bernama latin manihot utilissima tersebut banyak ditanam di kebun maupun tumbuh liar. Kandungan gizi singkong yaitu energi sebesar 160 kcal, jumlah karbohidrat 38.06 g, protein 1,36 g 2,5, total lemak 0.28 g, kolesterol 0 mg, dan serat 1,8 g.

Selama ini pengolahan singkong hanya diolah dengan cara digoreng atau direbus. Namun di tangan mahasiswa, menjadi makanan yang berbeda.

Singkong juga memiliki harga yang terjangkau, dan proses pembuatannya cepat dan mudah. Anggota kelompok Istifani Audina mengatakan, bahan yang dibutuhkan adalah  singkong, garam, lada, panir dan telur.

“Isiannya ada kroket manis dan gurih. Manisnya menggunakan gula jawa dan isian gurih memakai oseng tempe atau abon,” imbuhnya.

Kroket dari singkong yang dikemas lebih menarik.

Menurut mahasiswa prodi pendidikan teknik boga tersebut, cara membuatnya adalah singkong direbus dengan garam dan gula sampai matang lalu dikeluarkan. Selagi panas singkong ditumbuk sampai halus.

Kemudian pipihkan dan diisi dengan isian manis atau gurih. Digulung bulat, balutkan ke telur yang sudah dikocok, lalu dibalurkan tepung panir dan digoreng.

Baca Juga :  Mahasiswa UNY Ciptakan Mesin Produksi Emping Otomatis

Sementara itu, salah satu warga Nglampar, Harni merasa senang karena mendapakan inovasi baru cara mengolah singkong yang berbeda. “Pengetahuan ini bisa menambah ragam kudapan yang disajikan. Karena di rumah memiliki usaha pembuatan kue,” katanya. (Siedoo) 

Apa Tanggapan Anda ?
Ucapan DPRD