Ilustrasi. sumber: unpar.ac.id

Inovasi

14 Tahun Tak Punya Perpustakaan, Sekolah Ini Alih Fungsikan Toilet


Siedoo, Sekolah tanpa perpustakaan terasa hampa. Hal ini pernah dialami SDN 173/V Tanjung Benanak, Kabupaten Tanjung Jabung, Provinsi Jambi. Hampir 14 tahun sekolah yang berada di perkampungan transmigrasi tersebut tidak memiliki perpustakaan.

Keterbatasan ruangan dan buku bacaan menjadi alasan krusialnya, tenggang waktu 1996 sampai 2011. Baru setelah sekolah mendapat bantuan buku bacaan dan pelatihan pengembangan budaya baca dari Tanoto Foundation, niatan membuat perpustakaan semakin kuat.

“Kami memanfaatkan toilet rusak berukuran 2 x 3 meter direnovasi menjadi perpustakaan sekolah,” kata Pustakawati SDN 173/V Tanjung Benanak, Kartika Isnaini, dilansir dari kemdikbud.go.id.

Meski ukurannya kecil, tetapi bisa menggerakkan budaya baca melalui perpustakaan ini. Buku-buku bacaan mulai disebarkan ke pojok-pojok baca di semua kelas. “Saya pustakawati yang mengatur sirkulasi pembaruan bukunya,” akunya.

Kartika menyadari, kunci keberhasilan meningkatkan budaya baca adalah penyediaan buku-buku bacaan baru yang berkelanjutan. Untuk itu, dia bersama kepala sekolah dan para guru memikirkan cara untuk memperbarui buku disaat sekolah memiliki keterbatasan anggaran. Mereka mendapatkan empat gagasan yang langsung ditindaklanjuti.

Pertama, mendatangi kepala desa setempat untuk mendapatkan pinjaman buku perpustakaan desa. Hasilnya, sekolah mendapatkan pinjaman 200 buku bacaan persemester. Kedua melibatkan alumni untuk menyumbang satu buku bacaan sebelum mereka lulus.

Ketiga, menganggarkan dana bos sekitar empat persen untuk membeli buku bacaan. Keempat, orang tua siswa dilibatkan untuk membelikan buku-buku kesukaan siswa. Buku itu setelah dibaca anaknya, mereka dapat saling bertukar buku dengan temannya.

“Dari upaya ini, setiap semester kami mendapat sekitar 400 an buku bacaan baru,” katanya lagi.

Upaya kreatif tersebut membuat para siswa memiliki banyak pilihan buku untuk dibaca. Buku-buku tersebut disebar ke setiap kelas agar siswa lebih mudah membacanya.

Sekolah juga membuat program kampanye membaca setiap hari. Program ini sudah dilakukan sejak tahun 2014 sebelum kebijakan membaca 15 menit dijalankan Kemdikbud.

Inisiatif baik ini, membuat sekolah mendapat penghargaan dari Tanoto Foundation. Sekolah mendapat bantuan pembangunan perpustakaan baru berukuran 36 meter persegi yang dilengkapi lemari, mebeleir, dan buku-buku bacaan.

Bantuan ini semakin membuat program budaya baca sekolah berkembang. Sekolah membuat jadwal rutin, setiap kelas wajib mengunjungi perpustakaan seminggu dua kali. Baik untuk kegiatan pembelajaran atau membaca rutin.

Setelah siswa senang dan terbiasa membaca, sekolah memiliki program untuk mendorong siswa lebih memahami isi buku yang dibaca. “Bentuknya dengan melatih siswa menulis, menceritakan kembali isi buku, menggambar tokoh buku dalam poster, atau membuat kegiatan bedah buku,” kata Kartika.

Di sekolah ini, sejak kelas tiga para siswa juga sudah dibiasakan membuat buku cerita sendiri. Ide, gambar, dan isi ceritanya semua dari siswa. Guru membimbing mereka dalam proses pembuatannya.

Setelah selesai dibuat, buku tersebut dijilid sendiri. Bukunya disimpan di pojok baca kelas dan juga di perpustakaan sekolah. “Ternyata buku buatan siswa juga menarik minat siswa lain untuk membacanya,” kata Kartika.

Perjuangan Kartika bersama warga sekolah, berhasil menghadirkan fungsi dan peran perpustakaan untuk meningkatkan kemampuan literasi anak. Dari jurnal membaca yang ditulis oleh siswa, tampak dalam seminggu siswa membaca setidaknya 2-3 buku bacaan. Hal ini menunjukkan minat membaca siswa sudah berkembang dengan baik. (*)

Apa Tanggapan Anda ?