Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikbud Kota Magelang, Sahid menyampaikan paparan di hadapan peserta kegiatan perumusan kebijakan penanganan anak putus sekolah.

Daerah

Dua Faktor Penyebab 233 Anak Putus Sekolah


MAGELANG - Para kepala sekolah mulai dari sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Magelang, Jawa Tengah berkumpul di Ruang Adipura Setda Kota Magelang, Selasa (16/10/2018). Mereka mendengarkan pemaparan secara langsung tentang kondisi anak putus sekolah di Kota Magelang. Secara keseluruhan, terdapat 233 anak putus sekolah di tahun 2018.

Kondisi ini pun disebabkan karena beberapa faktor. Seksi Statistik Sosial, Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Magelang, Diana Larasati menjelaskan, secara umum, permasalahan putus sekolah di Kota Magelang disebabkan karena dua faktor. Yakni faktor internal dan eksternal.

"Faktor internal bisa berupa motivasi, kompetensi, dan psikologi. Sedangkan faktor eksternal antara lain orangtua (ekonomi dan perhatian) serta lingkungan (budaya, tempat tinggal, pergaulan, dan sekolah)," jelas Diana.

Ia mengatakan, perumusan kebijakan untuk penanganan anak putus sekolah ini sesuai dengan amanat undang-undang. Selain itu, dalam Konvensi Hak Anak (KHA) ayat 28, disebutkan bahwa negara-negara peserta konvensi, termasuk Indonesia, bertanggung jawab membuat pendidikan dasar wajib dan tersedia cuma-cuma untuk semua anak.

Adapun pada tahun 2000, Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk memberikan pendidikan pada semua anak dengan menandatangani Dakar Framework for Action on Education for All.

"Dengan menandatangani kerangka tersebut, Indonesia menargetkan bahwa Wajar Pendidikan Dasar (Dikdas) bagi semua anak dapat dicapai pada tahun 2015," terangnya.

Sementara pada tahun 2018 ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang menemukan masih ada sebanyak 233 anak putus sekolah. Sebagian besar anak yang putus sekolah ada di jenjang Sekolah Dasar (SD).

Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikbud Kota Magelang, Sahid menyebutkan, data anak putus sekolah tersebut terdiri dari jenjang Sekolah Dasar (SD) 130 anak, Sekolah Menengah Pertama (SMP) 86 anak, Sekolah Menengah Atas (SMA) 9 anak, Taman Kanak-Kanak (TK) 2 anak, Kejar Paket 2 anak, Tanpa Keterangan 2 anak.

"Data ini kami dapat berdasarkan laporan tiap kelurahan di Kota Magelang," urai Sahid, usai kegiatan perumusan kebijakan penanganan anak putus sekolah.

Sahid mengatakan, adanya anak yang putus sekolah ini disebabkan karena sejumlah faktor. Antara lain rendahnya motivasi belajar, faktor ekonomi, pengaruh lingkungan, dan faktor lain-lain.

"Di Kota Magelang, faktor yang paling besar adalah karena motivasi belajar yang rendah," terang Sahid.

Sejauh ini, Pemerintah Kota Magelang melalui Disdikbud telah berupaya menekan angka anak putus sekolah tersebut dengan berbagai program kegiatan. "Kita ada Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA), pemberian seragam gratis, bantuan lainnya," katanya.

Dengan adanya perumusan kebijakan penanganan anak putus sekolah, diharapkan dapat menghasilkan solusi terbaik. Dengan demikian, Pemerintah merumuskan secara bersama - sama dengan instansi terkait.

"Diharapkan ada solusi terbaik mengatasi angka putus sekolah di Kota Magelang," jelas Sahid. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?