Daerah

Tim Gabungan ITS, Pasarkan Paten Lokal

SURABAYA - Tim gabungan dari beberapa lembaga, bersama - sama memikirkan perkembangan revolusi industri 4.0. Sebagai wujud kepedulian revolusi industri dan pentingnya sebuah karya memiliki Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengadakan acara Sharing Session dengan tema Intelectual Property Right Empowerment Center (IPEC) di Gedung Rektorat ITS. Kegiatan ini merupakan inisiasi dari Wakil Rektor IV ITS bidang Inovasi, Kerja Sama, Kealumnian, dan Hubungan Internasional Prof Dr Ketut Buda Artana ST MSc.

Dalam sharing session ini, IPEC merupakan sebuah platform yang akan dibuat oleh tim gabungan dari teaching class tentang industri 4.0 yang diselenggarakan oleh sebuah yayasan di Jakarta yaitu United in Diversity (UID). Tim tersebut beranggotakan Ketut sendiri sebagai wakil dari ITS; Executive General Manager Divisi Digital Service Telkom Arief Mustain; Kepala Bagian Publikasi dan Dokumentasi, Sekretariat Jenderal , Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Dadan Nugraha; dan Ketua Asosiasi Industri Animasi dan Kreatif Indonesia (Ainaki) Adrian Elkana.

"Pertama dilihat dari sisi industri adanya IPEC ini juga sebagai langkah Indonesia untuk memasuki industri 4.0. Dalam industri 4.0, para pelaku bisnis tidak cukup hanya bermain di level manufaktur, namun harus lebih tinggi," kata Ketua Koordinator Tim IPEC Adrian Elkana.

IPEC yang akan dibuat ini bertujuan memberdayakan Intelectual Property (IP) lokal (Indonesia). Selain itu, dengan adanya IPEC ini nantinya juga diharapkan akan menciptakan market place. Di mana antara mereka yang menghasilkan paten dan mereka yang memanfaatkannya akan dipertemukan dalam satu platform ini.

Menurut Adrian, IPEC juga dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi dari manufaktur. Kalau marginnya hanya 10 persen, kalau bermain di IP bisa lebih tinggi.

IPEC juga dapat memberdayakan IP lokal yang ada. Karena selama ini industri lebih banyak menggunakan IP luar, misalnya karakter Transformers lebih sering dipakai di berbagai produk daripada karakter lokal sendiri.

Untuk rencana ke depan, menurut Adrian, IPEC akan dibuat terlebih dahulu bentuk platform-nya, kemudian baru akan disosialisasikan ke ranah yang lebih luas lagi.

"Dari hasil diskusi ini, pada 18 Oktober 2018 nanti akan kita presentasikan di kelas industri 4.0 yang terdiri dari lembaga pemerintah dan industri yang tergabung di kelas UID," urainya.

Pada acara sharing session ini juga mengundang berbagai pemerhati IP di Surabaya. Mulai dari lingkungan perguruan tinggi yaitu dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Airlangga (Unair), Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), dan juga para pelaku industri yang salah satunya Mohammad Sholikin atau Cak Ikin, pemilik IP Kartun Suroboyo, serta para mahasiswa dan dosen di lingkup ITS.

"Mereka sengaja kami undang agar dapat memberikan masukan kepada IPEC, dan kami akan mendata segala saran dari mereka. Salah satunya masalah yang mereka hadapi selama menjadi pemilik IP," jelas Wakil Rektor IV ITS bidang Inovasi, Kerja Sama, Kealumnian, dan Hubungan Internasional Prof Dr Ketut Buda Artana ST MSc.

Alumni doktor dari Kobe University, Jepang tersebut juga menjelaskan bahwa, pendidikan tentang IP atau HAKI baik di lingkup pendidikan maupun masyarakat masih sangat kurang. Oleh karena itu, dengan adanya platform IPEC ini nantinya selain untuk membuka market place bagi para wirausaha di bidang IP lokal, juga dapat menumbuhkan kepedulian masyarakat atas IP lokal ini.

“Kami sepakat untuk mengangkat topik tentang pemberdayaan kekayaan intelektual. Dasarnya kita (Indonesia, red) memang punya riset dan paten lumayan banyak, tetapi yang termanfaatkan masih sedikit. Industri banyak tapi tidak punya research and development-nya," ungkapnya.

Ia melanjutkan, keadaan tersebut menunjukkan bahwa ada peluang untuk menyuplai kebutuhan industri terhadap paten-paten lokal yang ada. Sehingga IPEC ini digagas untuk menjawab persoalan tersebut. Selama ini kondisinya para pemilik IP kesulitan dalam memasarkan produk mereka, dan industri juga kesulitan untuk mencari informasi IP lokal.

“Hal itu menyebabkan industri di Indonesia banyak memakai IP luar negeri," tandasnya.

Ketut juga menjelaskan bahwa platform IPEC ini nantinya akan serupa dengan platform e-commerce yang sudah ada di Indonesia saat ini. Namun bedanya, IPEC mempertemukan antara para pemilik IP, investor sekaligus para pelaku industri yang akan menggunakan IP tersebut.

"Ini nanti kami usahakan ada dahulu market place-nya, untuk data infrastrukturnya kami akan menggunakan Telkom dahulu," kata dosen Teknik Sistem Perkapalan ini.

Nantinya setiap perguruan tinggi, pelaku industri dan industri kreatif akan diberikan sebuah akun, agar setiap paten yang dihasilkan dapat dipromosikan pada market place IPEC. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?