Daerah

Soft Skills Jadi Faktor Dominan Bagi Kesuksesan Lulusan PT

SEMARANG – Rektor Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Dr. Muhdi, SH. MHum, menjelang acara wisuda menyampaikan revolusi industri 4.0 memicu disrupsi/perubahan yang begitu cepat. Jenis pekerjaan baru muncul, dan profesi-profesi lama bukan tak mungkin akan tergantikan atau hilang. Perkembangan Teknologi Informasi (TI) tidak bisa dipungkiri.

Menghadapi itu, maka seorang lulusan perguruan tinggi (PT) yang terbaik haruslah menjadi pembelajar yang tak henti.

“Lulusan diharapkan tidak menjadi pendukung saja yang hanya melihat laju perubahan. Melainkan sebagai motor penggerak yang berafilisasi dengan perubahan itu sendiri,” jelas Muhdi.

Muhdi menyebutkan, disrupsi yang begitu cepat menuntut setiap orang berpendidikan tinggi. Sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas akan siap menghadapi era disrupsi.

Meski begitu, kemampuan teknis (hard skills) yang didapat seorang lulusan  belumlah apa-apa karena tantangan di dunia kerja terus berkembang.

Maka soft skills tetap harus dimiliki sebagai bekal utama lulusan. Sebuah kemampuan interaksi sosial, terutama integritas atau karakter komunikasi dan kerja sama

Hard skills akan didesak oleh zaman. Teknologi segera menggantikannya. Namun soft skills akan selalu dibutuhkan, dan tidak akan digantikan zaman,” jelasnya seperti dikutip dari suaramerdeka.com.

Muhdi mencontohkan, sebuah survey (National Association of Colleges and Employers, USA, 2012) menyebut bahwa soft skill menjadi faktor dominan bagi kesuksesan lulusan PT di dunia kerja. Soft skills sebanyak 82 persen, sisanya 18 persen merupakan hard skills.

Muhdi mengemukakan, pendidikan menjadi benteng pertahanan terakhir menghadapi megasosial media pada era didrupsi ini. Pendidikan untuk mengokohkan kembali karakter dan kepribadian yang bermuara pada pembentukan kecerdasan personal dan kolektif.

Do era megasosial media, kemudahan komunikasi bukannya menguatkan rasa kesatuan dan persatuan. Namun justru cenderung melemahkan, karena faktanya media sosial dijadikan sarana propaganda memecahbelah persatuan.

Lembaga pendidikan bertugas membentuk SDM yang bisa menyesuaikan diri dengan adanya disrupsi. Lembaga pendidikan tidak mencetak batu bata, yang artinya hanya siap dipakai untuk tenaga kerja.

“Melainkan membuat tanah liat yang siap dibentuk apa saja sebagai penantang zaman,” jelas Muhdi.

Seperti diketahui, UPGRIS akan mewisuda 894 mahasiswa/mahasiswi, Kamis (11/10/2018). Mereka terdiri dari 848 untuk gelar S1, 29 gelar S2, dan 17 pendidikan profesi guru (PPG) PAUD. (Siedoo/NSK)

Apa Tanggapan Anda ?