Tokoh

Tiga Alumni UGM Sulap Limbah Plastik Jadi Bahan Bakar, Lebih Hemat

BONTANG - Limbah bila dikelola bisa menjadi sesuatu yang berguna. Hal ini seperti yang terjadi di Kota Bontang, Kalimantan Timur. Limbah plastik di wilayah tersebut disulap oleh alumni Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta sebagai bahan bakar.

Mereka yang mengolah adalah Nosal Nugroho Pratama, Bangkit Widayat, dan Reno Imam Arthapersada. Alumni Fakultas Teknik tersebut merancang berupa thermal catalytic cracking with extruder and plastic shredding.

Bangkit menjelaskan, bahan bakar cair yang dapat diproduksi berupa bahan bakar yang kualitasnya setara dengan diesel oil dan gasoline. Sementara fraksi bahan bakar cair yang bisa dihasilkan adalah sekitar 70% dari total massa bahan baku limbah plastik.

Timnya sudah mengusulkan Process Flow Diagram (PFD) untuk melakukan pengolahan limbah plastik menjadi produk yang bermanfaat berupa bahan bakar cair.

Rancangan PFD ini direkayasa untuk menghasilkan sistem pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar cair yang menguntungkan secara komersial, mudah dioperasikan, ramah lingkungan dan berkelanjutan prosesnya serta mempertimbangkan cara perawatan yang mudah.

“Fokus perhatian kepada banyaknya limbah kota yang belum dimanfaatkan bahkan cenderung menumpuk dan mengakibatkan polusi lingkungan. Ini merupakan salah satu tantangan terbesar Kota Bontang untuk mempertahankan slogan Bontang sebagai Kota Hijau,” katanya dilansir dari ugm.ac.id.

Berdasarkan hasil riset yang telah dilakukan, porsi campuran bahan bakar hasil pyrolysis dinilai cukup baik sekitar 10% vol dari total campuran bahan bakar.

Nosal menaksir apabila estimasi efisiensi dalam satu tahun adalah 90% dari kapasitas produksi, dengan harga jual Rp 5.500 untuk pyrolysis fuel setara gasoline dan harganya lebih rendah dari BBM Pertamina jenis premium seharga Rp 6.500.

Harga jual Rp 4.000 untuk pyrolysis fuel setara diesel yang harganya juga masih rendah dari BBM Pertamina jenis Solar yakni seharga Rp 5.000. Hal tersebut memberikan estimasi keuntungan berupa yearly profit sebesar Rp 370.945.464.

“Diharapkan upaya pencerahan informasi teknologi ini dapat sejalan dengan kebijakan Pemerintah Republik Indonesia yang sudah merencanakan untuk mendukung program yang terkait dengan pemanfaatan limbah plastik menjadi energi. Terutama listrik, untuk menjadi bagian dari bauran energi baru dan terbarukan periode pengembangan tahun 2016 – 2025,” terangnya.

Atas inovasi tersebut, mereka mendapatkan piagam penghargaan dari Walikota Bontang, dr. Hj, Neni Moernieni. Sp.OG, dalam kompetisi Si Peena, sebuah ajang apresiasi terhadap inovasi, penelitian, dan teknologi tepat guna yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Bontang bekerja sama dengan PT Badak LNG pada 27 September 2018 lalu.

Mereka menjadi 5 besar kategori pengembangan teknologi tepat guna.

Pengembangan teknologi ini dilatarbelakangi persoalan limbah kota yang menimbulkan polusi lingkungan. Pemanfaatan limbah ini dapat menjadikan Kota Bontang sebagai kota percontohan pengembangan limbah plastik menjadi bahan bakar hidrokarbon cair pertama di Provinsi Kalimantan Timur. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?