Daerah

Kenalkan Wisata Alam Batu Gamping Lewat Festival Edukasi dan Budaya

SLEMAN - Cagar alam Batu Gamping yang ada di Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, DIY menyimpan potensi wisata budaya dan sejarah yang penting untuk dipelajari. Kawasan konservasi di bawah pengelolaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta itu bahkan masuk dalam sembilan geoheritage yang dikelola oleh Kementerian ESDM.

Sebagai upaya mengenalkan taman wisata alam Batu Gamping kepada masyarakat, BKSDA Yogyakarta bekerja sama dengan Pemerintah Desa Ambarketawang menggelar Festival Edukasi dan Budaya di lokasi tersebut.

Acara itu juga dimeriahkan gladen jemparingan (latihan memanah) yang diikuti 50 pelajar se-DIY. Sebelumnya, masih dalam rangkaian road to festival diadakan gladen jemparingan pada 16 September 2018 lalu dengan jumlah peserta 270 orang dari berbagai kelas umur.

Dalam festival tersebut juga menampilkan pendidikan konservasi tingkat SD, pengenalan satwa dari Gembiraloka Zoo, dan pemutaran film animasi.

“Edukasi tentang perlindungan terhadap satwa dan tumbuhan juga kami sampaikan lewat angkringan konservasi. Ada pula lomba desain batik dengan tema motif flora fauna Gunung Gamping yang diharapkan bisa menjadi ciri khas Gamping,” kata Kepala BKSDA, Junita Parjanti.

Pada puncak acara dipentaskan ketoprak dengan lakon Kuncaraning Gunung Gamping yang mengisahkan perjalanan Pangeran Mangkubumi dari Kasunanan Surakarta hingga tiba di Pesanggrahan Gunung Gamping. Menurut Junita, diselenggarakannya acara festival kolaborasi antara budaya dan edukasi konservasi alam ini lantaran dua hal itu saling memiliki keterikatan.

“Kebudayaan tidak lepas dari upaya menjaga lingkungan. Pesan tersebut kami tuangkan lewat tema festival yaitu menjaga tradisi, merawat bumi,” tambah Junita, dikutip dari suaramerdeka.com.

Sementara itu Camat Gamping, Samsul Bakri, dalam sambutannya mengatakan, dengan pelaksanaan kegiatan semacam ini masyarakat bisa tahu tentang sejarah Batu Gamping. Dengan demikian akan tumbuh kesadaran untuk turut melestarikan peninggalan batu purba berharga yang diperkirakan berusia 50 juta tahun itu.

“Kegiatan ini juga cukup mengena terlebih olahraga jemparingan sekarang sedang digemari generasi muda. Ke depan bisa dilaksanakan rutin, dan saling mendukung dengan event Saparan Bekakak," kata Samsul Bahri. (Siedoo/NSK)

Apa Tanggapan Anda ?