SMA Mutual Kota Magelang

Rektor ITS Prof Joni Hermana bersama pimpinan ITS saat meninjau Huntara dan melihat reruntuhan rumah warga Desa Rempek Darussalam, Lombok Utara.

Nasional

Lombok Masih Tetap Butuh Bantuan


LOMBOK – Keadaan gempa yang terjadi di Yogyakarta pada tahun 2006 silam berbeda dengan keadaan bencana di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Saat itu di Yogyakarta gempa dengan 5,9 skala richter dengan perhatian penuh pemerintah, proses rehabilitasinya memakan waktu hingga tiga tahun.

Maka, kondisi Lombok dengan kekuatan gempa yang lebih tinggi dan perhatian pemerintah belum sepenuhnya menangani, tentu akan memakan waktu lebih lama untuk proses pemulihan kondisi seperti semula.

“Di desa Rempek Darussalam dampingan ITS ini saja total ada 3.300 orang yang kehilangan rumah, belum di daerah lain. Tentu saja Lombok masih sangat membutuhkan perhatian kita (warga Indonesia dan pemerintah, red),” kata Ketua Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim (PSKBPI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur Lalu Muhammad Jaelani ST MSc PhD.

Ia ikut prihatin dengan apa yang terjadi di Sulawesi Tengah dan ITS sudah menyiapkan untuk bantuan di sana. Namun, ITS juga tak ingin begitu saja mengesampingkan kondisi yang ada di Lombok saat ini, yang memang masih butuh perhatian penuh.

Pria yang juga asli Lombok ini menjelaskan, saat ini di desa Rempek Darussalam dampingan ITS sudah bisa menikmati air bersih walau masih belum maksimal. Ada beberapa rumah yang sudah bisa mengambil air bersih dari sumbernya dengan pipa-pipa yang dibangun secara swadaya ITS bersama masyarakat.

Ada juga rumah yang masih mengandalkan tandon air untuk mencukupi kebutuhan air bersihnya. Sementara, untuk listrik sudah dapat dinikmati kembali oleh masyarakat sana.

Pria lulusan University of Tsukuba, Jepang itu juga menekankan, masyarakat Lombok saat ini lebih butuh perhatian pada pembangunan infrastruktur. Kalau logistik mereka sudah bisa menghidupi dirinya sendiri, yang lebih perlu dibantu adalah hunian dan air bersih, fasilitas umum, sekolah, masjid, serta puskesmas.

Baca Juga :  Ketika Smart City Dibicarakan para Pakar

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tetap mencurahkan perhatiannya juga kepada masyarakat Lombok. Dengan tetap pula membantu untuk korban bencana alam yang terjadi di Palu dan Donggala.

Ia juga mengimbau, untuk semua stakeholder baik perusahaan swasta, BUMN, atau masyarakat yang ingin membantu, agar memberi perhatian 70 persen untuk Palu dan 30 persen untuk Lombok itu sudah cukup.

“Jangan langsung tinggalkan Lombok dan alihkan semua ke Palu, karena saudara kita di Lombok masih butuh kita,” ujar pria berkacama tersebut.

Lalu Muhamad Jaelani ST MSc PhD selaku Kepala PSKBPI ITS di Posko ITS di Lombok.

Ia juga menambahkan, kini dari total 100 Huntara ITS 1.0, yang sudah dihuni oleh warga berjumlah 23 rumah. Sisanya masih dalam proses pembangunan dan sudah jadi semua rangkanya.

“Kami terus akan menyelesaikan pembangunan 914 Huntara ini, dan mereka yang sudah membantu dana untuk membangun Huntara bisa melihat rumah hasil sumbangan mereka di website sites.its.ac.id/rempekd,” ujarnya.

Pria yang kerap disapa Lalu ini juga menambahkan, kesuksesan ITS dalam mendampingi Desa Rempek Darussalam ini juga tak lepas dari bantuan para relawan ITS yang berasal dari Lombok asli dan para mahasiswa ITS yang menjadi relawan sejak awal musibah terjadi. Hingga saat ini, sudah ada lima kloter mahasiswa yang secara bergantian diberangkatkan ke Lombok.

“Tugas mereka selain mendata kebutuhan masyarakat di sana, juga memberikan terapi trauma healing kepada anak-anak di sana,” jelasnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?