Siswa diajak berinovasi terkait dengan keberadaan obyek wisata bertaraf internasional Candi Borobudur. Keterampilan membatik mampu mengantarkan SMPN 1 Borobudur juara tingkat nasional.

Daerah

Bekali Siswa dengan Keterampilan Membatik

SMK Muhammadiyah 2 Muntilan

MAGELANG – Obyek wisata bertaraf internasional, Candi Borobudur dikunjungi jutaan wisatawan mancanegara. Kondisi ini berdampak positif ke ekonomi masyarakat sekitar. Berbagai jenis barang, souvenir dan lain sebagainya berpotensi besar dibeli oleh para wisatawan.

Melihat kondisi itu, SMPN 1 Borobudur, Kabupaten Magelang mencoba untuk berinovasi. Sekolah tersebut memberikan pelajaran keterampilan membatik kepada para siswanya. Melalui kegiatan itu, diharapkan siswa kelak mampu memberi kontribusi bagi perkembangan usaha batik di wilayah Borobudur dan sekitarnya sebagai kawasan yang dikunjungi banyak wisatawan.

Guru pengampu keterampilan SMPN 1 Borobudur Ishaningsih SPd menyatakan, pelajaran keterampilan membatik diajarkan kepada siswa kelas VIII dan IX. Pelajaran muatan lokal ini dipilih karena lebih mudah diajarkan secara klasikal dan dipraktekkan secara individual maupun berkelompok.

“Mereka kelas VIII dan IX harus sudah memahami dasar-dasar membatik tulis dan mempraktekannya langsung,” katanya di sela-sela kegiatan praktek membatik.

Menurut Ishaningsih, para siswa sangat antusias dalam praktek membatik. Proses yang diajarkan dilakukan dengan runtut, sehingga mampu mencapai hasil yang memuaskan. Awalnya, mereka diajarkan mendesain batik pada kertas. Kebanyakan desainnya itu motif klasik tradisional. Seperti motif sulur, parang, hingga lukis batik.

Desain itu kemudian dipolakan pada kain dengan teknik tindas. Baru kemudian dibatik menggunakan malam dengan pewarnaan teknik colek maupun celup. Proses dilanjutkan dengan ngiseni, nerusi, nembok, dan mbliriki hingga kain batik siap dikeringkan dan dibuat bahan baju atau lainnya.

“Bahkan baju batik seragam para guru di sekolah ini adalah hasil karya anak-anak,” ungkap Ishaningsih.

Sebagai warga di kawasan obyek wisata, tentu harus mampu menangkap peluang usaha yang mendukung kegiatan wisata. Warga setidaknya memiliki satu keterampilan untuk mendukung usaha secara mandiri maupun berkelompok.

Seiring berlangsungnya waktu, kegiatan membatik ternyata membanggakan almamater sekolah. Terbukti, keterampilan membatik siswa sudah mengukir prestasi sekolah di bidang lomba membatik.

“Tahun 2012 lalu kontingen sekolah mampu menjuarai lomba nasional keterampilan membatik yang diadakan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan,” imbuh Kepala SMP Negeri 1 Borobudur Nurkholik SPd MPd.

Apa Tanggapan Anda ?